Direct Assessment Indonesia Mengajar angkatan XIII

Buka buka lagi blog ini, rasa rasanya saya pengen bersin. Habisnya berdebu bukan main saking ga pernah disentuh lagi. Menilik ke post terakhir, saya cuma sedikit cerita tentang seleksi berkas administrasi Indonesia Mengajar. Masih banyak yang pengen saya tumpahkan tentang proses selanjutnya. Apa daya lah waktu dan tenaga yang terbatas (baca: malas) membuat saya nunda nunda mulu dan baru sempat nulis sekarang. Better late than never sih ya semoga. (Telat nya udah berbulan bulan tapi haha).

Jujur aja. Saya hampir ga pernah ikut assessment yang sifatnya integrated sebelum LPDP dan IM. Jadi selama ini saya paling cuma pernah ikut test psikotest, wawancara secara sendiri sendiri. Belum pernah ikut FGD juga, apalagi ikut test yang ditumpuk tumpuk dalam satu hari. Jadi ketika saya dapat info via email mengenai direct asseassment IM dan agenda nya apa aja, ya saya speechless! Dalam hati saya mikir, “Gila ini test nya super padat dan banyak, fix ini bakal lelah banget”.

Dan it’s indeed tiring. Tapii saya jauh lebih ga nyangka dong bahwa walaupun padat, DA nya IM ini supeeer menyenangkan. Bahkan ketika saya selesai pun, saya merasa biar ga lulus pun nanti, saya udah mendapatkan banyak hal yang bermanfaat dengan hanya ikut test ini. =)

Perjalanan DA dimulai saat saya datang pertama kali ke gedung tes pukul 7 pagi. Saya langsung mendaftarkan nama saya ke panitia dan menunjukkan berkas berkas yang telah diminta seperti KTP, ijazah dll. Saya juga sempat berkenalan dengan peserta- peserta DA yang dilihat dari luar saja keliatan bahwa mereka semua pasti hebat dan membanggakan. Apalagi jika sudah mengobrol. Semuanya cerdas dan berprestasi.

15 menit proses verifikasi dan mengobrol berlalu, saya izin pamit untuk mengisi kekosongan perut yang udah mulai keroncongan dan mengeluarkan bunyi bunyi aneh. Untungnya disekitar sana banyak yang menjual nasi kuning dan goreng gorengan yang lebih dari cukup memberi energi untuk sepanjang hari.

Saya lalu masuk lagi pukul 8 kurang 15 ke gedung karena acara dimulai pukul 8. Mungkin karena faktor kekenyangan, saya malah mengantuk parah saat menunggu test pertama (-.-). Untung adrenalin terpacu saat panitia mulai memanggil untuk test pertama, jadi lumayan mengurangi kantuk. (Malu maluin emang, padahal yang lain juga ga ada yang ngantuk)

Ditengah tengah test pertama yaitu psikotest, rupanya ada sambutan dari Bu Evi selaku executive director IM mengenai proses DA. Kesan pertama saya adalah, Bu Evi ini vibe nya positif sekali. Caranya yang memotivasi kami serta briefing nya mengenai program IM ini cukup membekas dan memberi dorongan semangat.

Tanpa banyak agenda, acara sambutan langsung diganti dengan seriusnya proses test psikotest atau lebih dikenal dengan TPA kali ya. Bagi yang sudah pernah test kerja atau test CPNS pasti sudah familiar dengan test ini. Di mbah google insya Allah banyaaak banget referensi test yang bakal membantu berlatih dan mempersiapkan diri.

Saya ingat beberapa tips dari guru saya dulu terkait test psikotest:

– Kerjakan soal yang paling dikuasai walaupun urutannya belakangan. Dan saya sebagai anak teknik langsung menjawab soal yang berhubungan dengan angka =p

– Jangan stuck dengan soal yang belum bisa dijawab. Cepat move on berarti cepat mendapatkan jawaban baru. Kalau semua soal yang bisa dijawab sudah selesai barulah fokus ke soal yang lumayan butuh waktu lama

– Sisa 5 menit terakhir dipakai buat menebak  berhubung ga ada poin minus (setahu saya). Jadi saya memanfaatkan waktu untuk tebak tebak berhadiah. Pokoknya jangan biarkan kertas kosong aja.

Tips menebak? Kalau ada 2 pilihan jawaban yang dekat, ya pilih salah satu di antara itu. Tapi untuk soal soal yang benar benar blank, saya memilih untuk mengisi satu huruf yang sama saja, misalnya C semua atau D semua. Peluang benar nya lebih tinggi daripada isian yang sifatnya random dan acak.

 

Setelah otak saya cukup terkuras karena test awal ini, tim panitia memberikan jeda sedikit bagi kami sekitar beberapa menit untuk sekedar menghela nafas dan beradu senyum dengan peserta lain. Seolah tak ingin membuang waktu, tim seleksi langsung mengumumkan kelompok kecil dimana kelompok tersebut akan menjadi partner tetap selama test berlangsung. Kebetulan saya sekelompok bersama Winda, Desi, Yusva dan Nita. Jumlah laki laki di DA jadwal saya memang dikiit banget dan tim kecil saya ga kebagian laki laki, jadilah kita menamai grup kita dengan nama celutukan tim buibu gosip. Memang kita berlima ini langsung cepat ceriwis dan bisa bercerita satu sama lain.

 

Tibalah di test kedua yaitu focus group discussion. Saya mungkin adalah manusia ter ga siap diantara mbak mbak nya yang lain. Tapi saya hanya bisa berdoa semoga saya setidaknya bisa nyusun pendapat dan menunjukkan kemampuan yang cukup baik. Kasus FGD nya secara umum adalah permasalahan mengenai masalah pendidikan. Untuk khususnya, permasalahan yang kelompok kami hadapi adalah tentang kondisi sekolah A yang tingkat retensi siswa yang selalu menurun seiring naiknya tingkatan, kurang sadarnya orang tua mengenai pendidikan, jarak sekolah menengah yang jauh membuat anak anak putus sekolah. Pokoknya permasalahan tsb sudah kompleks. Peserta diminta membuat prioritas dari solusi solusi yang sudah tersedia. Mana yang harus dikerjakan dulu dan mana yang menyusul.

Kemudian prioritas masing2 peserta akan didiskusikan untuk mencapai solusi bersama sebagai satu tim yang satu. (Musyawarah untuk mencapai mufakat)

Saya sempet pusing di awal awal untuk menentukan prioritas karena sudah sedemikian mengakarnya sampai sampai bingung mau gerak yang mana dulu. Saya mencoba membreakdown permasalahan2 yang ada  dan berusaha menemukan akar masalahnya. Dari situ saya mencoba mencari solusi paling feasible untuk root cause tersebut. Sebenarnya tidak ada yang benar dan salah dalam FGD ini. Yang terpenting adalah alasan dibalik keputusan dan cara penyampaiannya yang baik dan sopan.

Saya inget banget ada dua kubu besar di tim saya, yaitu saya dan Nita, dan Yusva Winda dan Desi. 2 kubu ini berbeda prioritas (jauh). Setelah diskusi panjang dan waktu yang semakin sempit, saya akhirnya memutuskan untuk menerima lobby kubu sebelah untuk menprioritaskan pendapat mereka karena alasannya juga cukup meyakinkan menurut saya. Jadi perlu diinget, pendapat kita tidak diterima sebagai solusi utama bukan masalah kok. Asal kita mau berlapang dada menerima dan tetap supportive, tetap akan dinilai sebagai suatu poin. Justru hindari terlalu mendominasi. Karena diskusi ini sifatnya bukan kompetisi melainkan kolaborasi.

Test ketiga dan terkocak adalah test micro teaching. Saya yakin banget semua peserta DA Akan mengenang test ini sebagai test ter ga terlupakan. Gimana ga? Semua persiapan bahan ajar, media pemberlajaran dkk dihancurkan oleh scenario jail tim seleksi nya. Bahkan kita juga dipaksa ber acting untuk menguji ketahanan mental temen temen kita yang akan tampil. Ada yang kondisi nya sedang gempa, ada yang murid nya poop sembarangan dan nangis (saya menunjuk diri sendiri untuk ambil peran anak ini :p), ada yang satu kelas kayak mayat (diaaaam semua tanpa suara dan semangat), ada yang orang tua tiba tiba masuk kelas membawa parang dan menyuruh anak nya tidak sekolah, dan masih banyak lagi scenario mencengangkan lainnya.

Saking chaos nya, saya bahkan curiga ini bukan test tapi sebenernya uji mental dan plonco ala ala IM =p.

Setelah super lega dan bebas menertawakan diri sendiri pas micro teaching. Kami menunggu untuk dipanggil test wawancara. Wawancara nya terdiri dari 2 sesi (60 menit dan 30 menit). Pertanyaan nya hampir mirip dengan kumpulah pertanyaan pada seleksi administrasi. Jadi memang kalau kita ga jujur isi berkas pasti akan langsung ketauan dengan para assessor nya. Saya juga ga bisa memberikan advise tentang wawancara ini karena sifat nya sangat subjektif. Tapi setidaknya tunjukkan antusiasme saat menjawab dan pertahankan kontak mata. Just be yourself saja.

Terakhir, saya harus melewati test psikologi gambar. Seperti dulu saat saya test perguruan tinggi, saya diminta menggambar 3 gambar dengan 3 tema: manusia lengkap, pohon, dan rumah beserta orang. Kamu bisa cari di internet kalau penasaran dengan arti dari gambarmu, tapi kalau saya ga terlalu banyak mencari. Saya gambar apa yang paling bisa aja.

Capek penat, itu pasti. Tapi terbayar dengan pengalaman berharga dan teman teman baru yang sangat positif. Bersyukur sekali saya mendapatkan keseruan keseruan di Direct Assessment Indonesia Mengajar.

Advertisements

Seleksi Indonesia Mengajar (Part 1)

Setahun Mengajar Seumur hidup menginspirasi

Begitulah tagline program Indonesia Mengajar saat pertama kali program tersebut mencuat ke permukaan. Penasaran, saya lalu mencari info mengenai program yang digagas oleh Bapak Anies Baswedan ini. Sampai akhirnya berhasil menemukan website dan surat terbuka oleh Pak Anies di disini. Saya terkesima dan sejak itu berniat untuk mendaftarkan diri. Namun, baru 2 tahun setelah lulus kuliah saya baru bisa benar benar mengikuti tahap seleksi.

Saya dengar dari berbagai sumber bahwa, test Indonesia Mengajar (IM) ini cukup ketat karena peminatnya banyak. Untuk satu periode, yang mendaftar bisa mencapai 10.000 orang namun yang pada akhirnya terpilih hanya puluhan peserta saja. Agak jiper dari awal sih sebenarnya. Tapi toh, masih mending nyoba daripada engga sama sekali kan ya. Dan saya akhirnya mencoba peruntungan di awal tahun 2016.

Seleksi pertama yang harus ditaklukkan adalah seleksi berkas. Seingat saya jarak dari pertama kali aplikasi dibuka sampai batas pengiriman berkas cukup lama ya. Ga mepet banget. Enaknya lagi, semua berkas atau pertanyaan cukup disubmit secara online via website. Tentu saja harus buat akun dan log in dulu.

Satu hal: Siap siap semedi ya kalau udah berhasil masuk ke aplikasi nya ^,^. Ada banyak essay singkat yang harus diisi (maksimal 250 kata) dan beberapa pengalaman mengenai aktivitas organisasi, voluntary atau kerja. Buat yang mau tau pertanyaan essay nya, silahkan ceki ceki poin poin dibawah ini:

  • Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
  • Ceritakan pengalaman Anda ketika berada dalam situasi yang bertentangan dengan nilai/prinsip yang Anda yakini dan bagaimana Anda mengatasinya !
  • Ceritakan pengalaman Anda ketika berada dalam lingkungan/kondisi yang terbatas/tidak menguntungkan dan bagaimana Anda menghadapinya ?
  • Ceritakan pengalaman Anda dalam melakukan suatu perubahan di organisasi/lingkungan! Bagaimana Anda melakukan hal tersebut dan apa dampak dari tindakan tersebut ?
  • Ceritakan situasi ketika Anda menemukan dan menyelesaikan suatu masalah di organisasi/ lingkungan, dimana Anda tidak menunggu orang lain untuk menyelesaikannya !
  • Ceritakan pengalaman Anda dalam meyakinkan orang yang kedudukannya lebih tinggi dari Anda untuk mendapatkan dukungan atas sebuah ide atau inisiatif.
  • Ceritakan pengalaman Anda mengatasi kesulitan yang muncul dalam mencapai kesepakatan ketika bekerja sama dengan rekan kerja, anggota kelompok, atau orang lain !
  • Ceritakan kegagalan terbesar Anda, baik dalam kompetisi dengan orang lain maupun suatu pekerjaan. Bagaimana situasinya dan bagaimana Anda mengatasi kegagalan tersebut ?
  • Sebutkan hal-hal yang mungkin menghalangi Anda untuk menjadi Pengajar Muda jika Anda diterima? Bagaimana Anda mengatasinya?
  • Ceritakan kepada kami hal lain yang Anda ingin sampaikan tentang diri Anda.

 

Kalau kamu jago nulis atau berasal dari background journalist atau sastra, lucky you. Pembendaharaan kata kamu pasti banyak dan kamu tau cara membuat essay terlihat menarik. Namun, jangan khawatir buat newbie newbie di bidang ini. Saya pun juga ga jago nulis, bahkan tulisan saya cenderung acak kadut. Tapi kala itu saya mempersiapkan jauh jauh hari essay nya dari H-20 hari dan Alhamdulillah lulus di seleksi ini.

Hal yang saya lakukan untuk mempersiapkan essay adalah:

  1. Take time to analyse the question and list possible answer.
    Ini penting banget menurut saya karena hampir seluruh pertanyaan bersifat subjektif. Kadang ada beberapa opsi jawaban untuk satu jenis pertanyaan. Saya dulu cukup mencatat beberapa opsi jawaban di kertas (bisa juga diketik) dan memikirkan kemungkinan penjelasan dari tiap opsi. Ingat, karena ini masih brainstorming, kamu ga perlu langsung membuat essay tapi cukup bikin note kecil atau bullet point. Setelah semua opsi selesai, kamu tinggal memilih mana yang paling baik untuk ditulis sebagai essay.

    Kalau kebetulah pilihan nya terbatas atau cuma 1, ya berarti bisa langsung di proceed ke essay.

    Kalau menurut saya, elemen penting yang akan dipertimbangkan adalah adalah: organisation, social activity, leadership skill, problem solving. Jadi, alangkah bagusnya kalau pengalaman kamu berkaitan dengan hal-hal ini. Saran juga, jangan gunakan satu pengalaman terus terusan di banyak soal. Diversity pengalaman yang tercermin di essay menunjukkan kamu adalah seorang yang aktif dan dinamis.

  2. Be honest
    Fyi, semua pertanyaan essay akan keluar di seleksi wawancara (tahap 2). Jadi tulis jawaban sejujur mungkin dan senatural mungkin tanpa harus terlihat berlebihan dan lebay. Jawaban yang tidak jujur akan merugikan kita di tahap selanjutnya.
    .
  3. Format essay WHR (WHAT HOW RESULT)
    What, How, Result selalu saya praktikan dalam essay-essay yang saya tulis. What mencakup pengalaman/kasus yang ditanyakan, How menjelaskan bagaimana kita mencoba menyelesaikan masalah tersebut, dan Result menunjukkan progress atau accomplisment yang kita capai. Biasanya saya selalu breakdown essay saya dalam bentuk minimal 3 paragraf.
    .
  4. Start writing
    Stuck dan bingung mau nulis emang hal yang pasti dialami semua orang. Walaupun udah bikin format WHR tetap aja masih kagok karena takut essay kita terkesan dull dan boring. Saya pun juga begitu. Tapi menjelang deadline, saya akhirnya langsung nekat ngetik jawaban tanpa peduli jumlah karakter, struktur atau pembendaharaan kata. Yang penting semua ide di kepala saya tersampaikan. Dan emang, berhasil bikin first draft bikin perasaan jadi supeeer plong karena tau essay-nya hanya tinggal dipoles dan diedit. Beda jauh saat kolom jawaban masih kosong pasti 😛
    .
  5. Be consice yet detail
    Agak paradoxial ya?hehe. Maksudnya, saya berikan posi singkat padat jelas untuk mendeskripsikan  masalah/kasus yang saya hadapi. I didn’t waste my time to add minor information in that part. Namun ketika saya menjelaskan cara menghadapi atau apa yang sudah saya lakukan, saya akan mencoba memberikan informasi yang detail dan runut supaya pihak penyeleksi benar benar memahami effort yang sudah saya lakukan. Terakhir, untuk result, saya juga menjelaskan secara concise dan to the point walaupun masih kadang bisa lebih detail dari deskripsi masalah.

    Mengapa begitu? karena jumlah huruf dibatasi. Oleh karena itu jika essay yang kita berikan berlebih, saya memilih untuk membuatnya lebih singkat di bagian deskripsi masalah atau hasil, tergantung mana yang paling feasible.

    Ohya, ga semua essay yang saya tulis bisa mencapai 250 kata kok, kadang ada yang udah mentok di jumlah kata segitu dan ga bisa ditambahin apa apa lagi. Kalau itu, saya biarkan aja 😀

  6. Revise
    Setelah beban menumpahkan ide selesai, sampai ke proses revising yang tak kalah pentingnya. Disini saya banyak membaca tulisan atau essay orang-orang mengenai pengalaman sosial yang cukup bagus dan menginspirasi. Lalu saya sedia KBBI untuk mencari sinonim dan antonim (untuk menghindari redundant/pengulangan), cek struktur kalimat (sudah jelas dibaca atau masih “wagu”), cek spelling (jangan sampai ada typo), cek punctuation (huruf kapital, titik, koma), dan terakhir menambahkan sedikit elemen bahasa supaya essay lebih menarik dan eye-catching (peribahasa, istilah, majas dll – namun in proper manner saja).
    .
  7. Submit dan berdoa
    Submit beberapa hari sebelum deadline. Saya punya pengalaman mengirim berkas online disuatu seleksi. Jaringannya error karena banyak yang juga mengirim berkas di waktu deadline. Daripada, beresiko membuat aplikasimu gagal karena telat submit dan membuat usahamu jadi sia sia, mending dikirim 2-3 hari sebelumnya paling lambat.

    Jangan lupa berdoa, karena ikhtiar yang baik melibatkan usaha dan doa yang sama kencangnya. Dan nothing is impossible kalau Allah sudah mengabulkan. 🙂

 

Alhamdulillah usaha ini dapat menuntun saya untuk dapat bergabung ke 217 kandidat yang lolos seleksi berkas dari 9.832 aplikasi yang masuk

Semoga yang berniat mulai menyiapkan aplikasi berkas pada program IM selanjutnya bisa diberi kesempatan lulus juga. Amin.

ZAHRA ^,^

 

 

Ngurus E-paspor gampang kok! (via Kantor Imigrasi Jakarta Pusat)

Postingan ini hanya sekedar sharing pengalaman saya membuat e-passpor. Take a deep breath dan read slowly karena cukup panjang. Semoga bermanfaat ya 🙂

————

Karena sudah deket-deket bulan Maret untuk keberangkatan liburan ke Negeri Sakura, saya mulai kepikiran untuk mempersiapkan dokumen penting yang harus diurus di masa cuti saya dari desember sampai awal januari. Salah satunya adalah visa kunjungan ke Jepang.

Setelah browsing dan modal nanya ke orang-orang, saya jadi tahu bahwa sebenarnya mulai Desember 2014, Jepang sudah memberlakukan bebas visa kunjungan ke Jepang bagi pemilik e-passport (paspor elektronik). Disinilah kegalauan saya timbul (halah): antara mengurus visa Jepang biasa atau visa waiver via paspor elektronik. Setelah menimbang nimbang banyak hal, akhirnya saya memilih opsi kedua karena:

  • Bebas dari keribetan urusan visa
    Saya baca sekilas bahwa untuk mengurus visa Jepang dibutuhkan dokumen pendukung seperti itinerary, print tiket pesawat, bukti hotel yang sudah di booked dll.

    Masalahnya, saya bahkan belum menyiapkan akomodasi apapapun ke Jepangnya. Jadi, there’s no way saya bisa daftar visa dalam masa cuti saya yang akan habis Januari awal ini soalnya masalah akomodasi dkk baru akan saya diskusikan dengan teman teman nanti bulan Januari tengah.

    Bandingkan dengan visa waiver via e-passport yang tidak memerlukan dokumen-dokumen tersebut. Belum lagi ada kemungkinan visa nantinya ditolak. Oleh karena itu jelas opsi e-passport yang saya ambil.

  • I admit it, e-passport is way more cooler than usual passport
    Tentu saja bukan physically cooler, hehe. Tapi lebih ke additional feature dan advantage yang didapat. E-paspor sangat sulit untuk dipalsukan karena memiliki chip yang menyimpan data biometrik si pemilik paspor dan tertanam di dalam paspor tersebut sehingga practically lebih aman dibandingkan paspor biasa. Walaupun sebenernya siapa juga yang akan mau menyamar atau menyalahgunakan paspor saya :p.

    Kerennya lagi, kita tidak perlu antri lagi di pintu pemeriksaan imigrasi bandara (khususnya di Jakarta dan Bali), karena ada auto-gate untuk menscan e-paspor. Jadi kita tidak perlu melewati proses pemeriksaan manual dari petugas bandara Indonesia. This truly saves the time in immigration post for anyone who spends a lot of times going abroad. 

  • Buat yang sudah ada paspor lama, tidak perlu menunggu sampai masa berlakunya habis
    Real case nya saya sendiri kok. Saya baru saja memperpanjang paspor biasa di awal tahun 2015 untuk berlaku sampai tahun 2020, tapi tetap masih bisa mengajukan permohonan e-paspor. Jatuhnya seperti buat baru nantinya, bukan memperpanjang paspor. Jadi ga perlu menunggu paspor sampai 6 bulan sebelum masa berlaku usai.
    .
  • Semoga ga cuma Jepang yang memberlakukan bebas visa untuk pengguna e-paspor
    Yang ini mah masih sebatas angan angan aja sih. Tapi who knows kan beberapa tahun mendatang negara seperti Korea, Hongkong dkk menyusul seperti Jepang. Amiin 🙂

Continue reading

Alhamdulillah Akhirnya sidang juga

19 Juni 2014. No Doubt, I should note that moment as one of my awesome one in 2014.

Alhamdulillaa Segala puji bagi Allah karena nikmat-Nya lah akhirnya saya berhasil menjadi Sarjana Teknik Perminyakan ITB Juli. Jujur beberapa waktu yang lalu, saya sudah dalam tahap hopeless dan hampir give up bahwa tugas akhir (TA) tidak akan selesai di bulan Juni karena banyaknya kendala yang harus dihadapi. Dari mulai topik TA yang cenderung tricky dan konseptual (korelasi aliran dua fasa dalam annulus itu super banyak dan mesti hati hati penggunaannya), data yang sangat terbatas, waktu mepet, dll. Pokoknya, selama 2 bulan terakhir saya udah berserah diri kalau kalau akhirnya periode wisuda saya di bulan Oktober.

Namun Allah berkehendak lain. Meskipun konon katanya sidang saya merupakan sidang terlama di angkatan (1 jam 25 menit, padahal yang lain hanya sekitar 50 menit kurang), toh akhirnya saya berhasil S.T juga. ^^

Kelihatan tegang lumayan hehe

Kelihatan tegang lumayan hehe

Saat presentasi jujur banyaak banget masukan (kalau ga mau dibilang “pembantaian” :p) dari dosen penguji. Tapi saya udah nyiapin mental sih, apalagi di awal presentasi dosen pengujinya, Mas Taufan sudah bilang gini:  “Tenang saja, saya masih punya banyak waktu kok untuk mengeksplor kamu lebih jauh, No hard feeling ya..“. Yaudah deh waktu itu saya pun pasrah. Hampir semua pertanyaan bisa dijawab (Semoga bener jawabannya haha). Tapi kalau adapun pertanyaan yang cukup sulit, dosen pembimbing saya Mbak Nenny sangat murah hatinya dengan memberikan clue bahkan menambahkan jawaban saya. Rasa-rasanya setelah presentasi saya ingin memeluk mba Nenny deh {()}

Surely, setelah 1 jam lebih presentasi yang mendebarkan itu, gantian teman saya Bella Astari yang mempresentasikan tugas akhirnya. Dan setelah 50 menit kemudian, presentasi selesai dilanjutkan oleh speech dosen pembimbing dan kemudian saya dan teman saya dinyatakan LULUS sebagai SARJANA TEKNIK. Alhamdulillah!

Gelar ini saya persembahkan kepada Orang tua: Zulaidah dan Sufardi Umar karena tanpa doa dan jerih payah mereka di setiap langkah, saya tidak akan berhasil menyelesaikan studi saya dengan baik. Even Thank you seems so under rated to say for them. I love you mom and dad 🙂

Terima kasih kepada Nbak Nenny Saptadji selaku dosen pembimbing yang tidak lelah memberi ilmu, saran masukan dan kritik demi tugas akhir yg lebih baik. Padahal Mbak Nenny super sibuk tapi tetep bisa nyempetin waktu untuk konsultasi, revisi TA, dan dry run presentasi. Terima kasih juga kepada Mbak Nurita (Asisten Mbak Nenny yang super pinter) yang banyak sekali membantu saya dalam pengerjaan TA: dari nyariin data, bantuin jelasin konsep sampai ngedit draft final bareng sampai jam 7 malam. Makasih banyak yaa Mbak untuk cerita ceritanya diluar TA. Terakhir, terima kasih kepada Mas Taufan selaku dosen penguji yang banyak memberi saran dan membuka mata saya terhadap studi yg saya pelajari.

Ini dosen pembimbing saya, Ahli Teknik Geothermal se Indonesia mbak Nenny Miryani Saptadji :)

Ini dosen pembimbing saya, Ahli Teknik Geothermal se Indonesia mbak Nenny Miryani Saptadji 🙂

Bersama dosen pembimbing (mba Nenny), teman sidang saya ngegemesin (Bella Astari), dan Dosen penguji saya yang baik (mas Taufan Marhaendradjana)

Bersama dosen pembimbing (mba Nenny), teman sidang saya ngegemesin (Bella Astari), dan Dosen penguji saya yang baik (mas Taufan Marhaendradjana)


Dan terakhir terima kasih kepada petro army dan teman teman yg telah hadir. You guys are really my spirit, my mood booster, and my candy crush. Makasih ucapan, bunga, balon dan coklat coklat nya yaa. :)). LUPH ❤

Teman teman Petro Army TM 2010 XD

Teman teman Petro Army TM 2010 XD

Picture1

FINALLY
Zahratul Kamila. S.T

DEADLINER is ME

Oke sekarang sudah akhir Mei, Sure doesn’t feel it :0

Beberapa minggui ini rasa-rasanya saya menjelma menjadi procastinator ekstrim. Bulan juni nanti seharusnya saya sudah akan sidang kelulusan bersiap siap menjadi mantan mahasiswa Teknik Perminyakan. Tapi ngeliat tugas akhir kok hopeless begini :(. Lebih aneh lagi, udah tau hopeless, bukannya berusaha konsultasi, nyari tahu, belajar dll, saya malah menggunakan sebagian waktu saya untuk leyeh leyeh di kamar, nonton one piece/ attack on Titan (yup, i love this manga/anime recently) atau browsing ga jelas.

Sepertinya benar sih, kostan (lebih tepatnya kasur) adalah magnet bagi mahasiswa super pemalas kayak saya. Kalau kata sahabat saya dalam tweet nya “I love bed more than sharks love blood –> SO TRUE hahaha.

Kalau udah peak banget stress nya, saya cuma bisa cerita ke teman angkatan betapa terlantarnya TA, meminta pendukung (teman lain yang nasibnya sama), tapi yaudah gitu aja, ga ada usaha dan trigger lebih lanjut, Dasar.

Image

Iseng Browsing-browsing trus nemu quote yang “nyeleneh” ini :). Look clearly on the picture above, that might be what some people really believe right now. Kata salah satu temen angkatan saya, Theoza: menjadi deadliner itu adalah suatu kesempatan untuk memaksimalkan tingkat keefektifan waktu. Coba bayangkan, kerjaan yang dicicil 2 bulan dengan dalam 2 hari dapat menghasilkan output yang sama. Lalu kadang, ide fresh tiba tiba bisa langsung muncul ketika bekerja under time pressure. Di beberapa case yang saya alami sih makes sense juga.

Tapi my rensponse saat itu? Well, I have to admit kadang bener juga sih. Saya merasa bahwa hal tersebut sering terjadi ketika saya ngerjain tugas, nyusun laporan atau bahkan jadi panitia acara. Pada H-7, otak saya belum bisa “on” dan bekerja. Namun biasanya di H-2 atau bahkan sampai J-sekian ada saja ide atau inspirasi yang datang sehingga kerjaan dapat terselesaikan. Hal ini yang kadang dapat membuat saya kecanduan untuk menunda-nunda. Meskipun demikian, apakah pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik? Belum tentu. Meskipun ide brillian itu datang namun tetap saja eksekusi pengerjaan terpaksa diselesaikan secara terburu buru sehingga banyak kesalahan yang membuat hasil tidak maksimal.

Contohnya nih ketika saya mengerjakan laporan Kerja Praktek. Draft nya sudah saya kerjakan dari setahun lalu ketika saya magang di Chevron. Namun tetap saja saya harus mengedit agar penulisannya benar, tidak salah eja, keterangan gambar dan tabelnya sesuai dan sebagainya. Waktu itu saya mengerjakan semuanya hanya dalam 10 jam non stop untuk total 52 halaman laporan KP. Hasilnya karena sudah dikejar waktu dan terburu buru saat nge print. Saya tidak sadar bahwa tidak semua gambar saya lampirkan sumbernya. Padahal dosen wali saya sangat memperhatikan detail laporan dan selalu memperingatkan untuk menyertakan sumber seluruh gambar di laporan.

Duh, sensasi panik selama presentasi KP itu sama sekali ga menyenangkan lho. Ditambah lagi saya berani beraninya menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan pertama yang mempresentasikan laporan KP. Entah miracle apa yang saya dapat, hari itu dosen wali hanya memperhatikan sedikit laporan saya dan cukup fokus dengan materi presentasi saya. Di tengah materi, saya distop untuk presentasi lalu beliau berujar Sudah mantap dek, sempurna. Materinya bagus. Kamu boleh mengakhiri presentasinya. Saya berikan nilai A”. Hening sesaat, saya hanya speechless lalu tersadar sehingga kemudian mengangguk sopan sambil mengucapkan terima kasih. Padahal dalam hati saya sudah sangat kepengen buat joget joget (Only in my wildest scenario).

Pengalaman “coincidentally lucky” begini juga yang membuat saya bertahan deadliner *sigh*. Padahal ditengah kepanikan sebelumnya saya bertekad untuk tidak deadliner sambil berdoa agar nilai KP lancar. Namun ketika sudah mendapatkan hasil yang bagus, mulai lagi melupakan tekad-tekad tadi. Haduh.

Lalu kenapa saya menulis tulisan ini? Simpel, saya ingin menjadi pengingat untuk mengurangi kebiasaan deadliner saya. Apalagi saya masih punya beban super besar di tahun ini untuk segera diselesaikan –> TUGAS AKHIR (di Caps Lock plus Bold supaya makin keliatan). Deadline terakhir sidang adalah 20 Juni. Pastinya TA sudah harus selesai maksimal seminggu sebelumnya agar dapat direvisi. Waktu sebulan lebih tentu bukan waktu yang lama. Oleh karena itu, ketika saya mulai bermalas malasan, kehilangan semangat untuk men-TA. Saya akan membuka postingan ini dan semoga nanti muncul secercah semangat AMIN.

Apalagi kalau menyangkut masalah TA, sama sekali ga keren dong kalau tugas akhir yang notobene merupakan karya terakhir keilmuan kita di institusi pendidikan malah dikerjakan asal asalan, dan hasilnya bukan dari usaha terbaik kita. Biar makin mantap, saya sertakan juga ayat atau hadist tentang mudharatnya menunda pekerjaan.

”Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (berikutnya). Jika itu semua sudah selesai, maka berharaplah kepada Tuhanmu.” (As-Syarh: 7-8). 

Dari ‘Abdur Rahman bin Auf, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Menunda-nunda itu adalah pancaran setan yang disisipkan ke dalam hati orang-orang mukmin.’” (HR. Dailami no. 2420) 

Dalam sebuah hadits disebutkan :“ Dua nikmat Allah yang kebanyakan manusia sering lalai di dalamnya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang)…HR. Al Bukhari

Duh Naudzubillah, semoga saya bisa terlepas yaa dari kebiasaan deadliner akut ini. Dan semoga TA saya diberi kelancaran. Ganbatte and wait for me Sidang.. 🙂 :*

HAPPY NEW YEAR

It took long time to make third post *sigh. But actually this new year moment would be good for me to be more serious to write my blog.

Seperti kebanyakan manusia lainnya, saya sudah pasti bikin resolusi, meskipun peluang untuk semuanya berhasil yaa begitulah :p. Tahun ini bahkan saya bikin 30 resolusi dong -_- (damn, i should know that making resolution is way easier than doing it). Tapi toh sya mikir lagi, Gapapa sih banyak resolusi kalau semuanya bagus, kenapa engga? Asal serius ngejalanin aja, jangan malah ditelantarkan. 🙂

Sengaja saya post biar jadi pengingat saya (malu, kalo udah ditunjukkin tapi ga dilaksanain). atau buat jadi ajang saran kritik yang lain juga ke saya, dan mungkin bisa jadi inspirasi buat yang mau bikin resolusi :p (*abaikan)

Oke kira kira sih begini 🙂

——–> Update! Udah tahun 2015 kan saat nya checklist mana yg gagal dan mana yang accomplished

Khatam Al-Quran (setahun sekali minimal harusnyaa :)) (done)

Diperbanyak puasa senin kamis dan shalat tahajud (relatively less than years before –> Failed)

Kelarin semua urusan dokumen yang hilang (KTP, SIM, KTM) huhu (done, tapi KTP sempet ketinggalan lagi, untung ketemu T_T)

Make scrap book before graduation day (wacana sekali)

Tidak banyak mengeluh atau berkata ck sambil pasang muka bete hehe (almost, considering 2013 year as my biggest complaining year of my life, this year is just better)

Nyoba 5 kuliner baru di Bandung (done,,, XD lebih bahkan)

WISUDA WISUDA WISUDA, DAN HARUS TAU MAU NGAPAIN SETELAH ITU (syudaah :’) )

TA serius! Kompre serius! Jadi asisten petrofisika 🙂 (done alhamdulillah)

Naik 1 Gunung (get ready for some adventure XD)  (still wacana)

ikut kompetisi, be struggle (done for POD competition)

Belajar masak (haha) (jangankan belajar, pelaratannya aja ga kebeli -_-)

Belajar untuk lebih teratur dan rapi (consider how really messy i can be) (susyaaah bgt ini tolong.. 😦 )

Grow up TOEFL, GRE (Gah,, TOEFL malah turun dari zaman SMA, T_T) (belum test lagi –> not clear)

Read more books (NOPE.. i miss my old me being nerd book lover)

Doing Charity (fail fail)

Ketemu sahabat lama (SMP) : Rahma, Ratu, Ayu, Icha (belum sempat 😦 )

Bikin hadiah sendiri buat mama bapak (nabuuung) (only simple gift –> anggap done saja)

Sayonara cuek dan careless (ini hampir wacana kalo engga berusaha sekuat tenaga sih) (again, it is so hard to change natural habit and behaviour, sure it will need more times gradually)

Update blog (tetot) (*sapu sapu blog yang berdebu)

Take care my troble-prone skin 0_0 (take care sudah, but definitely haven’t found HG routine and product, masih trouble prone sekali)

Memaksa diri untuk Minum air putih 2.5 Liter (jarang yaa anak kos :.”))

Always write your idea and share it. Biasanya selalu dipendam *ngomong ke diri sendiri (write down in my brain –> which is fail because it is just so easy to forgot)

Geothermal or Petroleum engineering!! Rock it (PE finally, done)

Dapet Gold standard buat SPE ITB SC (alhamdulillah even it reach more than just gold standard –> outstanding SC)

Humble cheerful (saat PMS terutama) (me? creepy personality all the time of course)

Perbanyak senyum (selama ini selalu dikenal sebagai orang galak, misterius dll :D) –> (try hard)

Maybeeee Pendamping wisuda? Naah,, just stupid me make that joke (heem, i really can not comment this dumb resolution :p)

Kasih sebanyak doa dan ucapan di hari ulang tahun (not routinely, but much enough)

Doa yang benar benar seterusnya terutama untuk orang tua, keluarga, teman, orang orang (selalu kok –> ga boleh jadi resolusi lagi karena doa itu keharusan)

Peduli masyarakat (jangan apatis) (sooooo abstract)

Most of my resolution seems so absurd sih. Lebih jelas saya sudah mencatat kok per point resolusi itu, kriteria jika gagal atau sukses, dan tips buat mencapai itu yang bisa saya lakukan secara nyata. Semoga berhasil semoga berhasil

can’t wait to rock 2014. here i coommee XDXDXDXD

a long story to get here

Akhirnya, ini adalah blog wordpress yang kedua (?) yang tercipta juga. Saya sebelumnya kesel banget karena blog sebelumnya crash entah kemana dan dan hanya menyisakan trauma untuk membuat blog lagi -___-

Tapi berbekal semangat lagi udah 20 tahun (udah harus mulai nulis lagi), jadi saya bikin lagi deh blog baru. Semoga makin sering deh nulis. Saya sebenarnya ga punya pengalaman berarti dalam menulis. Jadi maklum saja kalo tulisan ga bagus-bagus banget, malah mungkin rada rada, hehe. But I keep learning how to write good. Saya nulis blog ini ga lebih sebagai sarana belajar, sarana curcol dan ekspresi. Syukur-syukur kalau disenangi pembaca sekalian (belum ada juga sih pembaca kayaknya hehe) nantinya.

Thanks for coming.. 🙂