Big Change!!!

“Making a big life change is pretty scary. You know what is even scarier? REGRET”

Berubah itu menyeramkan, menggalaukan, merisaukan dan entah apa lagi namanya. Disatu sisi, berubah membuat kita berkeinginan dan berharap mendapatkan sesuatu yang lebih lebih rewarding dari apa yang kita peroleh sekarang. Namun disisi lain, leaving our comfort zone behind is definitely not easy. Perlu motivasi, keyakinan, dan harapan setinggi dan seluas-luasnya supaya kita mantap menjalani dan menghadapi seluruh resiko.

Since my childhood, I always live in easy and comfortable life. Kalau kata orang mah, plain and predictable. Begitu lulus SMA, saya lalu melanjutkan kuliah di perguruan tinggi yang saya inginkan. Lanjut kuliah, Alhamdulillah saya langsung mendapatkan pekerjaan tetap sebagai karyawan swasta di industri migas. Sounds nice, but the problem is, I always pick my choice based on available opportunity or people’s preference.

Kala SMA, saya punya ketertarikan pada dua hal berikut: Advokasi International dan Energi. Pada masa akhir sekolah saat itu, sebenarnya saya lebih ngebet ngambil jurusan HI (Hubungan International). Namun apa daya background saya IPA, jadilah saya sedikit kewalahan untuk belajar mata pelajaran IPS dalam waktu yang super mepet. Layaknya murid kelas 3 SMA, saya mengikuti banyak test perguruan tinggi mandiri. Waktu itu belum ada SNMPTN undangan, dan ujian mandiri masih bejibun. Hampir seluruh test yang saya ikuti, saya mengambil jurusan IPC untuk dapat tembus ke program HI. But, as you may predict. Saya gagal, hehe. Sebagian besar pilihan IPC saya cuma nyampe di pilihan kedua di beberapa universitas. Ga ada yang benar-benar tembus ke jurusan HI.

Disaat test IPC saya tidak sesuai ekspektasi, saya masih mendapat rezeki untuk tembus ke Fakultas FTTM lewat seleksi UM ITB. Jujur, saya excited dan senang, namun setelah itu saya agak sedih. Disatu sisi, tiket saya untuk berkuliah di salah satu tempat yang saya inginkan sudah berhasil saya genggam. Disisi lain, saya masih punya keinginan terdalam untuk masuk HI UGM atau HI UI.

Yes, I am a dreamer yet I listened to people more than myself. Jadi, beberapa guru dan teman saya kala itu selalu bilang “Buat apa ambil test HI lagi, itu FTTM udah bagus jurusannya. Jadi juragan minyak nanti cepat kaya“. Atau ada yang nyeloteh “Yaelah Dam*, orang-orang kepengen masuk FTTM, ini qe* malah mau lempar buat test yang lain“. Dan beragam komentar lainnya. Satu kalimat yang saya ingat banget adalah “Fokus Dam ke satu mimpi, kalau mau ambil HI, ya dari awal ambil HI. Kalau mau FTTM ya FTTM. Inget lho, satu orang harus gagal karena kursinya diambil qe yang malah nantinya mau ngebuang jatah itu untuk pilihan lain.” That words made me wonder how opportunistic I was to throw that option. Pada akhirnya pilihan saya berlabuh ke FTTM ITB.

Lalu saat saya lulus kuliah, saya diberi rezeki lebih lagi untuk lolos seleksi kerja di sebuah perusahaan migas, and I took it. Wajar ga sih, setelah lulus, kita sedikit bingung antara mau S2, kerja atau mengikuti kegiatan lain? Wajar kan ya? Saya yakin sih, kegundahan ini pasti dirasain sama sarjana yang baru lulus. Dan, karena kebetulan kesempatan kerja datang duluan, jadilah saya ambil tawaran tersebut sekaligus untuk menambah pengalaman.

Sejujurnya, Saya ga pernah menyesal terhadap pilihan-pilihan saya yang lalu. It brought the best thing in my life. Karena menjadi mahasiswa perminyakan, saya menemukan passion dan ketertarikan pada suatu energi terbarukan di Indonesia, Energi Panas Bumi, dan banyak lagi hikmah lainnya. Saya juga bersyukur akhirnya saya dapat bekerja dan berpenghasilan sekaligus mendapatkan pengalaman, dan teman-teman baru. Yah, beberapa kali sih saya wondering what is like to experience the other fate dan berbagai imaginasi liar lainnya. Tapi cuma sebatas itu.

 

Sampai akhirnya saya sampai ke titik ini. At some points, I started to concern about my future.

These thoughts came to me recently.

“You have your ultimate dream, right? Have you perished it from your mind?”

“Don’t you notice, you live like a water for almost 22 years? You wander and follow everything that is offered”

“Are you sure, your current state is what you really wish?”

And the list goes on the way down. Pokoknya pikiran-pikiran itu berkecamuk banget lah. Pikiran ini datang saat saya sudah bekerja. Latar belakangnya sih karena saya kurang merasa cocok dangan atmosfir pada pekerjaan sekarang. Don’t get me wrong, pekerjaan saya sangat menyenangkan dan sesuai bidang saya. Akan tetapi, beberapa hal tidak bisa saya dapatkan disini. Dan mostly, pekerjaan ini bukan sesuatu yang benar-benar menjadi impian saya meski secara finansial sudah lebih dari cukup.

After long time and tiring thinking process to decide what my life will be, I finally made up my mind to take bigger step further from my comfort area. Saya resign. Alasannya sederhana, karena ingin sekali mempersiapkan sekolah S2 di bidang energi panas bumi. Selama ini, bukannya saya tidak mencoba mempersiapkan sekolah sambil bekerja. Namun saya kurang mampu menyeimbangkan waktu karena seluruh fisik dan mental telah terkuras di pekerjaan dan kegiatan saya. And I wonder, semakin lama saya bekerja disini, semakin beresiko bagi saya untuk tidak akan pernah melanjutkan pendidikan.

Akan tetapi, dibalik keputusan besar ini, tentu ada konsekuensinya. Pada awalnya orang tua, terutama mama sangat menentang keputusan ini. Tentu saya maklum, beliau khawatir terhadap masa depan anak gadisnya. Saya sudah mendapatkan seluruh kenyamanan yang mungkin tidak akan pernah didapat di tempat lain. Buat apa lagi keluar? Alasan ingin S2 awalnya kurang logis menurut mama. It indeed took many efforts and time to convince her actually, before she finally gave me support.

Dan akhirnya sejak April lalu, saya resmi pengangguran lagi, tapi kali ini saya full of excitement and willingness to pursue my ultimate goal. Let new things and uncertainty make my life fuller. Memang, berbagai keraguan dan ketakutan akan kegagalan kadang datang ke saya, tapi saya jadikan saja sebagai motivasi untuk berjuang. Let my journey start here.

 

So, What’s your big change experience? 🙂

 

*Dam = Nama panggilan saya semasa SMA

* Qe = Kamu dalam bahasa gaul khas remaja Aceh

 

 

 

 

 

A Working Start Preparation

Setelah mengalami fase kehidupan akhir sebagai mahasiswa, saya pun akhirnya harus mantap melangkah sebagai a truly early woman yang akan menghadapi kerasnya kehidupan. Orang-orang bilang: di masa msa seperti ini, kita tidak pernah bisa berpikir ideal layaknya mahasiswa, bermain main sepuasnya dengan teman teman, menjalani hari tanpa tujuan atau hidup mengalir seperti air, dan hidup di bawah orang tua lagi. It’s true indeed. Saya baru sadar dan kebingungan setelah momen wisuda saya. Pertanyaan seperti: “habis ini mau apa?” dan lain lain bertumpuk tumpuk di kepala. Seriously, I had panic attack at the moment.

Meskipun demikian, saya sesungguhnya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena saya berhasil diterima kerja di salah satu perusahaan yang sesuai dengan bidang keahliah saya (Teknik Perminyakan) sebelum saya lulus. Saya percaya, masih banyak sekali orang orang yang belum beruntung seperti saya dan sedang berjuang mendapatkan kerja atau sekolah di luar sana.

First on boarding saya kerja adalah tanggal 5 Agustus. Untunglah, karena saya masih memiliki waktu 1 bulan lamanya untuk menghabiskan waktu bersama orang tua dan adik saya. Yaa, hitung hitung puas puasin liburan sebelum bekerja terus tanpa cuti selama setahun ke depan.

Satu hal yang pasti ditemui sebelum bekerja itu adalah: “mengurus kelengkapan dokumen”. Itu adalah hal yang harus dipersiapkan dan dibawa oleh seseorang ketika mulai bekerja nantinya, terlebih untuk fresh graduate seperti saya ini. Biasanya, tempat kerja atau perusahaan memiliki aturan sendiri-sendiri mengenai dokumen apa saja yang harus diurus. Untuk kasus saya misalnya, Dokumen yang harus diurus adalah:

  • Kartu Identitas Diri

Jelas yaa pasti. Tanpa kartu ini, kita tidak akan diakui dimanapun. Kartu ini dapat berupa KTP, SIM maupun paspor. Kebanyakan calon pekerja pastinya sudah memiliki KTP sehingga sebenarnya dokumen ini tidak perlu dipersiapkan. Namun berbeda untuk saya, Dokumen ini hilang akibat dompet saya yang dicopet oleh seseorang, sehingga butuh waktu tambahan untuk mengurusinya terlebih dahulu -_-.

Perlu diingat bahwa KTP is the first document you will need. Tanpa KTP, semua dokumen di bawah ini tidak akan terurus karena semuanya butuh prasyarat KTP dan fotokopiannya. Buat yang merasa KTP nya hilang, cepatlah mengurus yaaa, Tidak lama kok hanya butuh 1-3 hari saja untuk mengurusnya.

  • Kartu Keluarga dan Akte Lahir

Everybody knows that this is “a must have documents” in a family . Orang tua kita pasti punya dan menyimpan dokumen ini. No need to manage asking this document to the government

  • Ijazah

Jika berpikir hanya ijazah kuliah sampai SMA saja yang diperlukan, it’s No! Saya bahkan diminta ijazah dari TK (fyi, saya tidak mengalami fase TK, haha). Sehingga ijazah SD sampai kuliah Asli wajib disiapkan beserta fotokopiannya yang sudah dilegalisir. That sounds really hard for me Karena SD saya sudah tidak ada (berubah menjadi SD lain) dan tidak mungkin meminta legalisir lagi. Untunglah diperbolehkan untuk memberi fotokopiannya saja.

Bagi yang ijazahnya hilang, sebenarnya tidak perlu khawatir. Datangi saja sekolah nya dulu lalu meminta surat keterangan, lalu datangi dinas pendidikan setempat untuk memberi cap pada surat keterangan tersebut :).

  • Surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian (SKCK)

Hal yang dibutuhkan adalah datangi polsek untuk meminta sidik jari, siapkan foto 4 x 6 (kurang ingat jumlahnya, namun jaga jaga saja sebanyak 10 lembar, karena lumayan banyak yang akan dibutuhkan nanti). Di beberapa daerah, tidak masalah untuk memberikan foto dengan latar belakang putih. Namun ada daerah yang polresnya sangat strict kepada peraturan “foto harus berlatar belakang biru atau merah”. Jadi, better prepare colored background photo than white background photo. Pengalaman saya di Aceh, saya diminta untuk pulang dulu karena pas foto saya yang berlatar putih. :0

Nanti setelah itu polisi akan mengurus dokumen SKCK tersebut. Lama waktunya sekitar 3 hari paling lama.

  • NPWP

Sebagai warga yang baik, jangan lupa membayar pajak. Mengurus NPWP adalah langkah awalnya. Saya senang sekali karena birokrasi kantor pajak di daerah saya (Aceh) sangaat baik :). Semuanya berhasil terurus dalam waktu setengah hari saja. You need nothing at all, except your KTP (as usual). Lalu hanya tinggal mengisi form disana and Ta da! kartu NPWP nya selesai dibuat. *terharu*

  • Surat dari Depnaker (Kartu Kuning) bagi yang belum bekerja

Siapkan foto, KTP, fotkop ijazah untuk yang fresh graduate. Datangi Depnaker dan mereka akan mengurusi semuanya no later than 3 days.

  • Transkrip Nilai

I don’t need to comment it further. Pasti sudah disiapkan di tempat kuliah kita beriringan dengan ijazah kita 🙂

  • Surat Keterangan

Begi yang belum bekerja dimanapun, kita hanya tinggal mengetik surat keterangan belum bekerja (ada formatnya di internet) lalu diberikan material dan ditanda tangani diri sendiri. Bagi yang sudah bekerja harus memberikan surat resign (pengunduran diri/pemberhentian kerja) dari perusahaan atau tempat bekerjanya yang terakhir.

  • Rekening bank

Di beberapa tempat kerja, ada yang mengharuskan kita membuka rekening tabungan yang compatible terhadap system finance di tempat kerja tersebut. Sebagai contoh, di perusahaan saya segala bentuk transfer gaji, pembayaran THR atau cuti hanya dilakukan di rekening mandiri. Sehingga saya harus membuka rekening mandiri jika belum ada.

  • Pas foto

Siapkan foto segala ukuran (4×6, 2×3 dan 3×4) cukup banyak dengan variasi beragam (hitam putih, warna latar belakang putih merah atau biru). You’ll never knew when you’ll use it suddenly.

  • Curriculum Vitae

——————————

Itu adalah sebagian besar dokumen yang akan dibutuhkan bagi seseorang yang akan bekerja. Bisa jadi ada perusahaan yang tidak membutuhkan beberapa dokumen tersebut atau ada yang membutuhkan lebih banyak lagi dokumen dari yang telah disebutkan. Untuk calon karyawan yang sudah menikah, dokumen nya akan mungkin lebih banyak lagi seperti: butuh tambahan KUA, Akte anak istri, dll

Semoga berguna yaa untuk yang akan bekerja nanti. Dipersiapkan saja karena nantinya akan sangat sulit jika harus mengurusnya secara terburu buru. Mungkin ketika telah mendapatkan pekerjaan, perusahaan atau tempat kerja akan memberikan waktu untuk mengurus semua kelengkapan dokumennya, namun disarankan agar mengurus sebagian dulu. Better safe than sorry. Semoga semua yang mencari pekerjaan segera mendapatkan rezeki pekerjaan yang terbaik Amin 🙂

Sudah 9 tahun, Tsunami Aceh

Rasanya waktu berlalu begitu cepat, Sudah 9 tahun sejak Bencana Terbesar melanda Bumi Aceh tercinta, Kota kelahiran saya.

Rasanya baru kemarin saya masih berpakaian kuning berjilbab putih, bersiap berangkat menuju mesjid Raya untuk mengaji

Rasanya baru kemarin saya merasakan guncangan hebat 9.2 SR

Rasanya baru kemarin saya berlari dengan kepanikan luar biasa bersama keluarga dan warga sekitar ketika seseorang tukang pos mengatakan “i laot ka ek” (arti : air laut telah naik)

Rasanya baru kemarin saya saksikan betapa air laut yang selama ini saya lihat sangat tenang mampu berubah membinasakan dan memporak porandakan kami semua. Air itu seperti menumpahkan segala kemarahan. Diterjang dan Ditelan semua yang ditemui baik rumah, sekolah, mobil apalagi kami, manusia yang lemah tiada apanya.

Rasanya baru kemarin Allah memutuskan untuk akhirnya mengambil mama dan nia ke sisiNya. Ikhlas adalah saat mengetahui Nia pergi dalam keadaan masih di bawah umur dan mama sempat sering sekali mengucap kalimat Allah sebelum meninggalkan kami. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa mereka. Amiin

Image

Untuk seluruh warga Aceh, Tsunami Aceh memang menjadi catatan Pahit negeri ini. Tapi jangan terus meratapi dengan kesedihan. Bangkit dan maju demi kemajuan Aceh.