Direct Assessment Indonesia Mengajar angkatan XIII

Buka buka lagi blog ini, rasa rasanya saya pengen bersin. Habisnya berdebu bukan main saking ga pernah disentuh lagi. Menilik ke post terakhir, saya cuma sedikit cerita tentang seleksi berkas administrasi Indonesia Mengajar. Masih banyak yang pengen saya tumpahkan tentang proses selanjutnya. Apa daya lah waktu dan tenaga yang terbatas (baca: malas) membuat saya nunda nunda mulu dan baru sempat nulis sekarang. Better late than never sih ya semoga. (Telat nya udah berbulan bulan tapi haha).

Jujur aja. Saya hampir ga pernah ikut assessment yang sifatnya integrated sebelum LPDP dan IM. Jadi selama ini saya paling cuma pernah ikut test psikotest, wawancara secara sendiri sendiri. Belum pernah ikut FGD juga, apalagi ikut test yang ditumpuk tumpuk dalam satu hari. Jadi ketika saya dapat info via email mengenai direct asseassment IM dan agenda nya apa aja, ya saya speechless! Dalam hati saya mikir, “Gila ini test nya super padat dan banyak, fix ini bakal lelah banget”.

Dan it’s indeed tiring. Tapii saya jauh lebih ga nyangka dong bahwa walaupun padat, DA nya IM ini supeeer menyenangkan. Bahkan ketika saya selesai pun, saya merasa biar ga lulus pun nanti, saya udah mendapatkan banyak hal yang bermanfaat dengan hanya ikut test ini. =)

Perjalanan DA dimulai saat saya datang pertama kali ke gedung tes pukul 7 pagi. Saya langsung mendaftarkan nama saya ke panitia dan menunjukkan berkas berkas yang telah diminta seperti KTP, ijazah dll. Saya juga sempat berkenalan dengan peserta- peserta DA yang dilihat dari luar saja keliatan bahwa mereka semua pasti hebat dan membanggakan. Apalagi jika sudah mengobrol. Semuanya cerdas dan berprestasi.

15 menit proses verifikasi dan mengobrol berlalu, saya izin pamit untuk mengisi kekosongan perut yang udah mulai keroncongan dan mengeluarkan bunyi bunyi aneh. Untungnya disekitar sana banyak yang menjual nasi kuning dan goreng gorengan yang lebih dari cukup memberi energi untuk sepanjang hari.

Saya lalu masuk lagi pukul 8 kurang 15 ke gedung karena acara dimulai pukul 8. Mungkin karena faktor kekenyangan, saya malah mengantuk parah saat menunggu test pertama (-.-). Untung adrenalin terpacu saat panitia mulai memanggil untuk test pertama, jadi lumayan mengurangi kantuk. (Malu maluin emang, padahal yang lain juga ga ada yang ngantuk)

Ditengah tengah test pertama yaitu psikotest, rupanya ada sambutan dari Bu Evi selaku executive director IM mengenai proses DA. Kesan pertama saya adalah, Bu Evi ini vibe nya positif sekali. Caranya yang memotivasi kami serta briefing nya mengenai program IM ini cukup membekas dan memberi dorongan semangat.

Tanpa banyak agenda, acara sambutan langsung diganti dengan seriusnya proses test psikotest atau lebih dikenal dengan TPA kali ya. Bagi yang sudah pernah test kerja atau test CPNS pasti sudah familiar dengan test ini. Di mbah google insya Allah banyaaak banget referensi test yang bakal membantu berlatih dan mempersiapkan diri.

Saya ingat beberapa tips dari guru saya dulu terkait test psikotest:

– Kerjakan soal yang paling dikuasai walaupun urutannya belakangan. Dan saya sebagai anak teknik langsung menjawab soal yang berhubungan dengan angka =p

– Jangan stuck dengan soal yang belum bisa dijawab. Cepat move on berarti cepat mendapatkan jawaban baru. Kalau semua soal yang bisa dijawab sudah selesai barulah fokus ke soal yang lumayan butuh waktu lama

– Sisa 5 menit terakhir dipakai buat menebak  berhubung ga ada poin minus (setahu saya). Jadi saya memanfaatkan waktu untuk tebak tebak berhadiah. Pokoknya jangan biarkan kertas kosong aja.

Tips menebak? Kalau ada 2 pilihan jawaban yang dekat, ya pilih salah satu di antara itu. Tapi untuk soal soal yang benar benar blank, saya memilih untuk mengisi satu huruf yang sama saja, misalnya C semua atau D semua. Peluang benar nya lebih tinggi daripada isian yang sifatnya random dan acak.

 

Setelah otak saya cukup terkuras karena test awal ini, tim panitia memberikan jeda sedikit bagi kami sekitar beberapa menit untuk sekedar menghela nafas dan beradu senyum dengan peserta lain. Seolah tak ingin membuang waktu, tim seleksi langsung mengumumkan kelompok kecil dimana kelompok tersebut akan menjadi partner tetap selama test berlangsung. Kebetulan saya sekelompok bersama Winda, Desi, Yusva dan Nita. Jumlah laki laki di DA jadwal saya memang dikiit banget dan tim kecil saya ga kebagian laki laki, jadilah kita menamai grup kita dengan nama celutukan tim buibu gosip. Memang kita berlima ini langsung cepat ceriwis dan bisa bercerita satu sama lain.

 

Tibalah di test kedua yaitu focus group discussion. Saya mungkin adalah manusia ter ga siap diantara mbak mbak nya yang lain. Tapi saya hanya bisa berdoa semoga saya setidaknya bisa nyusun pendapat dan menunjukkan kemampuan yang cukup baik. Kasus FGD nya secara umum adalah permasalahan mengenai masalah pendidikan. Untuk khususnya, permasalahan yang kelompok kami hadapi adalah tentang kondisi sekolah A yang tingkat retensi siswa yang selalu menurun seiring naiknya tingkatan, kurang sadarnya orang tua mengenai pendidikan, jarak sekolah menengah yang jauh membuat anak anak putus sekolah. Pokoknya permasalahan tsb sudah kompleks. Peserta diminta membuat prioritas dari solusi solusi yang sudah tersedia. Mana yang harus dikerjakan dulu dan mana yang menyusul.

Kemudian prioritas masing2 peserta akan didiskusikan untuk mencapai solusi bersama sebagai satu tim yang satu. (Musyawarah untuk mencapai mufakat)

Saya sempet pusing di awal awal untuk menentukan prioritas karena sudah sedemikian mengakarnya sampai sampai bingung mau gerak yang mana dulu. Saya mencoba membreakdown permasalahan2 yang ada  dan berusaha menemukan akar masalahnya. Dari situ saya mencoba mencari solusi paling feasible untuk root cause tersebut. Sebenarnya tidak ada yang benar dan salah dalam FGD ini. Yang terpenting adalah alasan dibalik keputusan dan cara penyampaiannya yang baik dan sopan.

Saya inget banget ada dua kubu besar di tim saya, yaitu saya dan Nita, dan Yusva Winda dan Desi. 2 kubu ini berbeda prioritas (jauh). Setelah diskusi panjang dan waktu yang semakin sempit, saya akhirnya memutuskan untuk menerima lobby kubu sebelah untuk menprioritaskan pendapat mereka karena alasannya juga cukup meyakinkan menurut saya. Jadi perlu diinget, pendapat kita tidak diterima sebagai solusi utama bukan masalah kok. Asal kita mau berlapang dada menerima dan tetap supportive, tetap akan dinilai sebagai suatu poin. Justru hindari terlalu mendominasi. Karena diskusi ini sifatnya bukan kompetisi melainkan kolaborasi.

Test ketiga dan terkocak adalah test micro teaching. Saya yakin banget semua peserta DA Akan mengenang test ini sebagai test ter ga terlupakan. Gimana ga? Semua persiapan bahan ajar, media pemberlajaran dkk dihancurkan oleh scenario jail tim seleksi nya. Bahkan kita juga dipaksa ber acting untuk menguji ketahanan mental temen temen kita yang akan tampil. Ada yang kondisi nya sedang gempa, ada yang murid nya poop sembarangan dan nangis (saya menunjuk diri sendiri untuk ambil peran anak ini :p), ada yang satu kelas kayak mayat (diaaaam semua tanpa suara dan semangat), ada yang orang tua tiba tiba masuk kelas membawa parang dan menyuruh anak nya tidak sekolah, dan masih banyak lagi scenario mencengangkan lainnya.

Saking chaos nya, saya bahkan curiga ini bukan test tapi sebenernya uji mental dan plonco ala ala IM =p.

Setelah super lega dan bebas menertawakan diri sendiri pas micro teaching. Kami menunggu untuk dipanggil test wawancara. Wawancara nya terdiri dari 2 sesi (60 menit dan 30 menit). Pertanyaan nya hampir mirip dengan kumpulah pertanyaan pada seleksi administrasi. Jadi memang kalau kita ga jujur isi berkas pasti akan langsung ketauan dengan para assessor nya. Saya juga ga bisa memberikan advise tentang wawancara ini karena sifat nya sangat subjektif. Tapi setidaknya tunjukkan antusiasme saat menjawab dan pertahankan kontak mata. Just be yourself saja.

Terakhir, saya harus melewati test psikologi gambar. Seperti dulu saat saya test perguruan tinggi, saya diminta menggambar 3 gambar dengan 3 tema: manusia lengkap, pohon, dan rumah beserta orang. Kamu bisa cari di internet kalau penasaran dengan arti dari gambarmu, tapi kalau saya ga terlalu banyak mencari. Saya gambar apa yang paling bisa aja.

Capek penat, itu pasti. Tapi terbayar dengan pengalaman berharga dan teman teman baru yang sangat positif. Bersyukur sekali saya mendapatkan keseruan keseruan di Direct Assessment Indonesia Mengajar.

Advertisements

Seleksi Indonesia Mengajar (Part 1)

Setahun Mengajar Seumur hidup menginspirasi

Begitulah tagline program Indonesia Mengajar saat pertama kali program tersebut mencuat ke permukaan. Penasaran, saya lalu mencari info mengenai program yang digagas oleh Bapak Anies Baswedan ini. Sampai akhirnya berhasil menemukan website dan surat terbuka oleh Pak Anies di disini. Saya terkesima dan sejak itu berniat untuk mendaftarkan diri. Namun, baru 2 tahun setelah lulus kuliah saya baru bisa benar benar mengikuti tahap seleksi.

Saya dengar dari berbagai sumber bahwa, test Indonesia Mengajar (IM) ini cukup ketat karena peminatnya banyak. Untuk satu periode, yang mendaftar bisa mencapai 10.000 orang namun yang pada akhirnya terpilih hanya puluhan peserta saja. Agak jiper dari awal sih sebenarnya. Tapi toh, masih mending nyoba daripada engga sama sekali kan ya. Dan saya akhirnya mencoba peruntungan di awal tahun 2016.

Seleksi pertama yang harus ditaklukkan adalah seleksi berkas. Seingat saya jarak dari pertama kali aplikasi dibuka sampai batas pengiriman berkas cukup lama ya. Ga mepet banget. Enaknya lagi, semua berkas atau pertanyaan cukup disubmit secara online via website. Tentu saja harus buat akun dan log in dulu.

Satu hal: Siap siap semedi ya kalau udah berhasil masuk ke aplikasi nya ^,^. Ada banyak essay singkat yang harus diisi (maksimal 250 kata) dan beberapa pengalaman mengenai aktivitas organisasi, voluntary atau kerja. Buat yang mau tau pertanyaan essay nya, silahkan ceki ceki poin poin dibawah ini:

  • Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
  • Ceritakan pengalaman Anda ketika berada dalam situasi yang bertentangan dengan nilai/prinsip yang Anda yakini dan bagaimana Anda mengatasinya !
  • Ceritakan pengalaman Anda ketika berada dalam lingkungan/kondisi yang terbatas/tidak menguntungkan dan bagaimana Anda menghadapinya ?
  • Ceritakan pengalaman Anda dalam melakukan suatu perubahan di organisasi/lingkungan! Bagaimana Anda melakukan hal tersebut dan apa dampak dari tindakan tersebut ?
  • Ceritakan situasi ketika Anda menemukan dan menyelesaikan suatu masalah di organisasi/ lingkungan, dimana Anda tidak menunggu orang lain untuk menyelesaikannya !
  • Ceritakan pengalaman Anda dalam meyakinkan orang yang kedudukannya lebih tinggi dari Anda untuk mendapatkan dukungan atas sebuah ide atau inisiatif.
  • Ceritakan pengalaman Anda mengatasi kesulitan yang muncul dalam mencapai kesepakatan ketika bekerja sama dengan rekan kerja, anggota kelompok, atau orang lain !
  • Ceritakan kegagalan terbesar Anda, baik dalam kompetisi dengan orang lain maupun suatu pekerjaan. Bagaimana situasinya dan bagaimana Anda mengatasi kegagalan tersebut ?
  • Sebutkan hal-hal yang mungkin menghalangi Anda untuk menjadi Pengajar Muda jika Anda diterima? Bagaimana Anda mengatasinya?
  • Ceritakan kepada kami hal lain yang Anda ingin sampaikan tentang diri Anda.

 

Kalau kamu jago nulis atau berasal dari background journalist atau sastra, lucky you. Pembendaharaan kata kamu pasti banyak dan kamu tau cara membuat essay terlihat menarik. Namun, jangan khawatir buat newbie newbie di bidang ini. Saya pun juga ga jago nulis, bahkan tulisan saya cenderung acak kadut. Tapi kala itu saya mempersiapkan jauh jauh hari essay nya dari H-20 hari dan Alhamdulillah lulus di seleksi ini.

Hal yang saya lakukan untuk mempersiapkan essay adalah:

  1. Take time to analyse the question and list possible answer.
    Ini penting banget menurut saya karena hampir seluruh pertanyaan bersifat subjektif. Kadang ada beberapa opsi jawaban untuk satu jenis pertanyaan. Saya dulu cukup mencatat beberapa opsi jawaban di kertas (bisa juga diketik) dan memikirkan kemungkinan penjelasan dari tiap opsi. Ingat, karena ini masih brainstorming, kamu ga perlu langsung membuat essay tapi cukup bikin note kecil atau bullet point. Setelah semua opsi selesai, kamu tinggal memilih mana yang paling baik untuk ditulis sebagai essay.

    Kalau kebetulah pilihan nya terbatas atau cuma 1, ya berarti bisa langsung di proceed ke essay.

    Kalau menurut saya, elemen penting yang akan dipertimbangkan adalah adalah: organisation, social activity, leadership skill, problem solving. Jadi, alangkah bagusnya kalau pengalaman kamu berkaitan dengan hal-hal ini. Saran juga, jangan gunakan satu pengalaman terus terusan di banyak soal. Diversity pengalaman yang tercermin di essay menunjukkan kamu adalah seorang yang aktif dan dinamis.

  2. Be honest
    Fyi, semua pertanyaan essay akan keluar di seleksi wawancara (tahap 2). Jadi tulis jawaban sejujur mungkin dan senatural mungkin tanpa harus terlihat berlebihan dan lebay. Jawaban yang tidak jujur akan merugikan kita di tahap selanjutnya.
    .
  3. Format essay WHR (WHAT HOW RESULT)
    What, How, Result selalu saya praktikan dalam essay-essay yang saya tulis. What mencakup pengalaman/kasus yang ditanyakan, How menjelaskan bagaimana kita mencoba menyelesaikan masalah tersebut, dan Result menunjukkan progress atau accomplisment yang kita capai. Biasanya saya selalu breakdown essay saya dalam bentuk minimal 3 paragraf.
    .
  4. Start writing
    Stuck dan bingung mau nulis emang hal yang pasti dialami semua orang. Walaupun udah bikin format WHR tetap aja masih kagok karena takut essay kita terkesan dull dan boring. Saya pun juga begitu. Tapi menjelang deadline, saya akhirnya langsung nekat ngetik jawaban tanpa peduli jumlah karakter, struktur atau pembendaharaan kata. Yang penting semua ide di kepala saya tersampaikan. Dan emang, berhasil bikin first draft bikin perasaan jadi supeeer plong karena tau essay-nya hanya tinggal dipoles dan diedit. Beda jauh saat kolom jawaban masih kosong pasti 😛
    .
  5. Be consice yet detail
    Agak paradoxial ya?hehe. Maksudnya, saya berikan posi singkat padat jelas untuk mendeskripsikan  masalah/kasus yang saya hadapi. I didn’t waste my time to add minor information in that part. Namun ketika saya menjelaskan cara menghadapi atau apa yang sudah saya lakukan, saya akan mencoba memberikan informasi yang detail dan runut supaya pihak penyeleksi benar benar memahami effort yang sudah saya lakukan. Terakhir, untuk result, saya juga menjelaskan secara concise dan to the point walaupun masih kadang bisa lebih detail dari deskripsi masalah.

    Mengapa begitu? karena jumlah huruf dibatasi. Oleh karena itu jika essay yang kita berikan berlebih, saya memilih untuk membuatnya lebih singkat di bagian deskripsi masalah atau hasil, tergantung mana yang paling feasible.

    Ohya, ga semua essay yang saya tulis bisa mencapai 250 kata kok, kadang ada yang udah mentok di jumlah kata segitu dan ga bisa ditambahin apa apa lagi. Kalau itu, saya biarkan aja 😀

  6. Revise
    Setelah beban menumpahkan ide selesai, sampai ke proses revising yang tak kalah pentingnya. Disini saya banyak membaca tulisan atau essay orang-orang mengenai pengalaman sosial yang cukup bagus dan menginspirasi. Lalu saya sedia KBBI untuk mencari sinonim dan antonim (untuk menghindari redundant/pengulangan), cek struktur kalimat (sudah jelas dibaca atau masih “wagu”), cek spelling (jangan sampai ada typo), cek punctuation (huruf kapital, titik, koma), dan terakhir menambahkan sedikit elemen bahasa supaya essay lebih menarik dan eye-catching (peribahasa, istilah, majas dll – namun in proper manner saja).
    .
  7. Submit dan berdoa
    Submit beberapa hari sebelum deadline. Saya punya pengalaman mengirim berkas online disuatu seleksi. Jaringannya error karena banyak yang juga mengirim berkas di waktu deadline. Daripada, beresiko membuat aplikasimu gagal karena telat submit dan membuat usahamu jadi sia sia, mending dikirim 2-3 hari sebelumnya paling lambat.

    Jangan lupa berdoa, karena ikhtiar yang baik melibatkan usaha dan doa yang sama kencangnya. Dan nothing is impossible kalau Allah sudah mengabulkan. 🙂

 

Alhamdulillah usaha ini dapat menuntun saya untuk dapat bergabung ke 217 kandidat yang lolos seleksi berkas dari 9.832 aplikasi yang masuk

Semoga yang berniat mulai menyiapkan aplikasi berkas pada program IM selanjutnya bisa diberi kesempatan lulus juga. Amin.

ZAHRA ^,^

 

 

Big Change!!!

“Making a big life change is pretty scary. You know what is even scarier? REGRET”

Berubah itu menyeramkan, menggalaukan, merisaukan dan entah apa lagi namanya. Disatu sisi, berubah membuat kita berkeinginan dan berharap mendapatkan sesuatu yang lebih lebih rewarding dari apa yang kita peroleh sekarang. Namun disisi lain, leaving our comfort zone behind is definitely not easy. Perlu motivasi, keyakinan, dan harapan setinggi dan seluas-luasnya supaya kita mantap menjalani dan menghadapi seluruh resiko.

Since my childhood, I always live in easy and comfortable life. Kalau kata orang mah, plain and predictable. Begitu lulus SMA, saya lalu melanjutkan kuliah di perguruan tinggi yang saya inginkan. Lanjut kuliah, Alhamdulillah saya langsung mendapatkan pekerjaan tetap sebagai karyawan swasta di industri migas. Sounds nice, but the problem is, I always pick my choice based on available opportunity or people’s preference.

Kala SMA, saya punya ketertarikan pada dua hal berikut: Advokasi International dan Energi. Pada masa akhir sekolah saat itu, sebenarnya saya lebih ngebet ngambil jurusan HI (Hubungan International). Namun apa daya background saya IPA, jadilah saya sedikit kewalahan untuk belajar mata pelajaran IPS dalam waktu yang super mepet. Layaknya murid kelas 3 SMA, saya mengikuti banyak test perguruan tinggi mandiri. Waktu itu belum ada SNMPTN undangan, dan ujian mandiri masih bejibun. Hampir seluruh test yang saya ikuti, saya mengambil jurusan IPC untuk dapat tembus ke program HI. But, as you may predict. Saya gagal, hehe. Sebagian besar pilihan IPC saya cuma nyampe di pilihan kedua di beberapa universitas. Ga ada yang benar-benar tembus ke jurusan HI.

Disaat test IPC saya tidak sesuai ekspektasi, saya masih mendapat rezeki untuk tembus ke Fakultas FTTM lewat seleksi UM ITB. Jujur, saya excited dan senang, namun setelah itu saya agak sedih. Disatu sisi, tiket saya untuk berkuliah di salah satu tempat yang saya inginkan sudah berhasil saya genggam. Disisi lain, saya masih punya keinginan terdalam untuk masuk HI UGM atau HI UI.

Yes, I am a dreamer yet I listened to people more than myself. Jadi, beberapa guru dan teman saya kala itu selalu bilang “Buat apa ambil test HI lagi, itu FTTM udah bagus jurusannya. Jadi juragan minyak nanti cepat kaya“. Atau ada yang nyeloteh “Yaelah Dam*, orang-orang kepengen masuk FTTM, ini qe* malah mau lempar buat test yang lain“. Dan beragam komentar lainnya. Satu kalimat yang saya ingat banget adalah “Fokus Dam ke satu mimpi, kalau mau ambil HI, ya dari awal ambil HI. Kalau mau FTTM ya FTTM. Inget lho, satu orang harus gagal karena kursinya diambil qe yang malah nantinya mau ngebuang jatah itu untuk pilihan lain.” That words made me wonder how opportunistic I was to throw that option. Pada akhirnya pilihan saya berlabuh ke FTTM ITB.

Lalu saat saya lulus kuliah, saya diberi rezeki lebih lagi untuk lolos seleksi kerja di sebuah perusahaan migas, and I took it. Wajar ga sih, setelah lulus, kita sedikit bingung antara mau S2, kerja atau mengikuti kegiatan lain? Wajar kan ya? Saya yakin sih, kegundahan ini pasti dirasain sama sarjana yang baru lulus. Dan, karena kebetulan kesempatan kerja datang duluan, jadilah saya ambil tawaran tersebut sekaligus untuk menambah pengalaman.

Sejujurnya, Saya ga pernah menyesal terhadap pilihan-pilihan saya yang lalu. It brought the best thing in my life. Karena menjadi mahasiswa perminyakan, saya menemukan passion dan ketertarikan pada suatu energi terbarukan di Indonesia, Energi Panas Bumi, dan banyak lagi hikmah lainnya. Saya juga bersyukur akhirnya saya dapat bekerja dan berpenghasilan sekaligus mendapatkan pengalaman, dan teman-teman baru. Yah, beberapa kali sih saya wondering what is like to experience the other fate dan berbagai imaginasi liar lainnya. Tapi cuma sebatas itu.

 

Sampai akhirnya saya sampai ke titik ini. At some points, I started to concern about my future.

These thoughts came to me recently.

“You have your ultimate dream, right? Have you perished it from your mind?”

“Don’t you notice, you live like a water for almost 22 years? You wander and follow everything that is offered”

“Are you sure, your current state is what you really wish?”

And the list goes on the way down. Pokoknya pikiran-pikiran itu berkecamuk banget lah. Pikiran ini datang saat saya sudah bekerja. Latar belakangnya sih karena saya kurang merasa cocok dangan atmosfir pada pekerjaan sekarang. Don’t get me wrong, pekerjaan saya sangat menyenangkan dan sesuai bidang saya. Akan tetapi, beberapa hal tidak bisa saya dapatkan disini. Dan mostly, pekerjaan ini bukan sesuatu yang benar-benar menjadi impian saya meski secara finansial sudah lebih dari cukup.

After long time and tiring thinking process to decide what my life will be, I finally made up my mind to take bigger step further from my comfort area. Saya resign. Alasannya sederhana, karena ingin sekali mempersiapkan sekolah S2 di bidang energi panas bumi. Selama ini, bukannya saya tidak mencoba mempersiapkan sekolah sambil bekerja. Namun saya kurang mampu menyeimbangkan waktu karena seluruh fisik dan mental telah terkuras di pekerjaan dan kegiatan saya. And I wonder, semakin lama saya bekerja disini, semakin beresiko bagi saya untuk tidak akan pernah melanjutkan pendidikan.

Akan tetapi, dibalik keputusan besar ini, tentu ada konsekuensinya. Pada awalnya orang tua, terutama mama sangat menentang keputusan ini. Tentu saya maklum, beliau khawatir terhadap masa depan anak gadisnya. Saya sudah mendapatkan seluruh kenyamanan yang mungkin tidak akan pernah didapat di tempat lain. Buat apa lagi keluar? Alasan ingin S2 awalnya kurang logis menurut mama. It indeed took many efforts and time to convince her actually, before she finally gave me support.

Dan akhirnya sejak April lalu, saya resmi pengangguran lagi, tapi kali ini saya full of excitement and willingness to pursue my ultimate goal. Let new things and uncertainty make my life fuller. Memang, berbagai keraguan dan ketakutan akan kegagalan kadang datang ke saya, tapi saya jadikan saja sebagai motivasi untuk berjuang. Let my journey start here.

 

So, What’s your big change experience? 🙂

 

*Dam = Nama panggilan saya semasa SMA

* Qe = Kamu dalam bahasa gaul khas remaja Aceh

 

 

 

 

 

Ngurus E-paspor gampang kok! (via Kantor Imigrasi Jakarta Pusat)

Postingan ini hanya sekedar sharing pengalaman saya membuat e-passpor. Take a deep breath dan read slowly karena cukup panjang. Semoga bermanfaat ya 🙂

————

Karena sudah deket-deket bulan Maret untuk keberangkatan liburan ke Negeri Sakura, saya mulai kepikiran untuk mempersiapkan dokumen penting yang harus diurus di masa cuti saya dari desember sampai awal januari. Salah satunya adalah visa kunjungan ke Jepang.

Setelah browsing dan modal nanya ke orang-orang, saya jadi tahu bahwa sebenarnya mulai Desember 2014, Jepang sudah memberlakukan bebas visa kunjungan ke Jepang bagi pemilik e-passport (paspor elektronik). Disinilah kegalauan saya timbul (halah): antara mengurus visa Jepang biasa atau visa waiver via paspor elektronik. Setelah menimbang nimbang banyak hal, akhirnya saya memilih opsi kedua karena:

  • Bebas dari keribetan urusan visa
    Saya baca sekilas bahwa untuk mengurus visa Jepang dibutuhkan dokumen pendukung seperti itinerary, print tiket pesawat, bukti hotel yang sudah di booked dll.

    Masalahnya, saya bahkan belum menyiapkan akomodasi apapapun ke Jepangnya. Jadi, there’s no way saya bisa daftar visa dalam masa cuti saya yang akan habis Januari awal ini soalnya masalah akomodasi dkk baru akan saya diskusikan dengan teman teman nanti bulan Januari tengah.

    Bandingkan dengan visa waiver via e-passport yang tidak memerlukan dokumen-dokumen tersebut. Belum lagi ada kemungkinan visa nantinya ditolak. Oleh karena itu jelas opsi e-passport yang saya ambil.

  • I admit it, e-passport is way more cooler than usual passport
    Tentu saja bukan physically cooler, hehe. Tapi lebih ke additional feature dan advantage yang didapat. E-paspor sangat sulit untuk dipalsukan karena memiliki chip yang menyimpan data biometrik si pemilik paspor dan tertanam di dalam paspor tersebut sehingga practically lebih aman dibandingkan paspor biasa. Walaupun sebenernya siapa juga yang akan mau menyamar atau menyalahgunakan paspor saya :p.

    Kerennya lagi, kita tidak perlu antri lagi di pintu pemeriksaan imigrasi bandara (khususnya di Jakarta dan Bali), karena ada auto-gate untuk menscan e-paspor. Jadi kita tidak perlu melewati proses pemeriksaan manual dari petugas bandara Indonesia. This truly saves the time in immigration post for anyone who spends a lot of times going abroad. 

  • Buat yang sudah ada paspor lama, tidak perlu menunggu sampai masa berlakunya habis
    Real case nya saya sendiri kok. Saya baru saja memperpanjang paspor biasa di awal tahun 2015 untuk berlaku sampai tahun 2020, tapi tetap masih bisa mengajukan permohonan e-paspor. Jatuhnya seperti buat baru nantinya, bukan memperpanjang paspor. Jadi ga perlu menunggu paspor sampai 6 bulan sebelum masa berlaku usai.
    .
  • Semoga ga cuma Jepang yang memberlakukan bebas visa untuk pengguna e-paspor
    Yang ini mah masih sebatas angan angan aja sih. Tapi who knows kan beberapa tahun mendatang negara seperti Korea, Hongkong dkk menyusul seperti Jepang. Amiin 🙂

Continue reading

A Working Start Preparation

Setelah mengalami fase kehidupan akhir sebagai mahasiswa, saya pun akhirnya harus mantap melangkah sebagai a truly early woman yang akan menghadapi kerasnya kehidupan. Orang-orang bilang: di masa msa seperti ini, kita tidak pernah bisa berpikir ideal layaknya mahasiswa, bermain main sepuasnya dengan teman teman, menjalani hari tanpa tujuan atau hidup mengalir seperti air, dan hidup di bawah orang tua lagi. It’s true indeed. Saya baru sadar dan kebingungan setelah momen wisuda saya. Pertanyaan seperti: “habis ini mau apa?” dan lain lain bertumpuk tumpuk di kepala. Seriously, I had panic attack at the moment.

Meskipun demikian, saya sesungguhnya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena saya berhasil diterima kerja di salah satu perusahaan yang sesuai dengan bidang keahliah saya (Teknik Perminyakan) sebelum saya lulus. Saya percaya, masih banyak sekali orang orang yang belum beruntung seperti saya dan sedang berjuang mendapatkan kerja atau sekolah di luar sana.

First on boarding saya kerja adalah tanggal 5 Agustus. Untunglah, karena saya masih memiliki waktu 1 bulan lamanya untuk menghabiskan waktu bersama orang tua dan adik saya. Yaa, hitung hitung puas puasin liburan sebelum bekerja terus tanpa cuti selama setahun ke depan.

Satu hal yang pasti ditemui sebelum bekerja itu adalah: “mengurus kelengkapan dokumen”. Itu adalah hal yang harus dipersiapkan dan dibawa oleh seseorang ketika mulai bekerja nantinya, terlebih untuk fresh graduate seperti saya ini. Biasanya, tempat kerja atau perusahaan memiliki aturan sendiri-sendiri mengenai dokumen apa saja yang harus diurus. Untuk kasus saya misalnya, Dokumen yang harus diurus adalah:

  • Kartu Identitas Diri

Jelas yaa pasti. Tanpa kartu ini, kita tidak akan diakui dimanapun. Kartu ini dapat berupa KTP, SIM maupun paspor. Kebanyakan calon pekerja pastinya sudah memiliki KTP sehingga sebenarnya dokumen ini tidak perlu dipersiapkan. Namun berbeda untuk saya, Dokumen ini hilang akibat dompet saya yang dicopet oleh seseorang, sehingga butuh waktu tambahan untuk mengurusinya terlebih dahulu -_-.

Perlu diingat bahwa KTP is the first document you will need. Tanpa KTP, semua dokumen di bawah ini tidak akan terurus karena semuanya butuh prasyarat KTP dan fotokopiannya. Buat yang merasa KTP nya hilang, cepatlah mengurus yaaa, Tidak lama kok hanya butuh 1-3 hari saja untuk mengurusnya.

  • Kartu Keluarga dan Akte Lahir

Everybody knows that this is “a must have documents” in a family . Orang tua kita pasti punya dan menyimpan dokumen ini. No need to manage asking this document to the government

  • Ijazah

Jika berpikir hanya ijazah kuliah sampai SMA saja yang diperlukan, it’s No! Saya bahkan diminta ijazah dari TK (fyi, saya tidak mengalami fase TK, haha). Sehingga ijazah SD sampai kuliah Asli wajib disiapkan beserta fotokopiannya yang sudah dilegalisir. That sounds really hard for me Karena SD saya sudah tidak ada (berubah menjadi SD lain) dan tidak mungkin meminta legalisir lagi. Untunglah diperbolehkan untuk memberi fotokopiannya saja.

Bagi yang ijazahnya hilang, sebenarnya tidak perlu khawatir. Datangi saja sekolah nya dulu lalu meminta surat keterangan, lalu datangi dinas pendidikan setempat untuk memberi cap pada surat keterangan tersebut :).

  • Surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian (SKCK)

Hal yang dibutuhkan adalah datangi polsek untuk meminta sidik jari, siapkan foto 4 x 6 (kurang ingat jumlahnya, namun jaga jaga saja sebanyak 10 lembar, karena lumayan banyak yang akan dibutuhkan nanti). Di beberapa daerah, tidak masalah untuk memberikan foto dengan latar belakang putih. Namun ada daerah yang polresnya sangat strict kepada peraturan “foto harus berlatar belakang biru atau merah”. Jadi, better prepare colored background photo than white background photo. Pengalaman saya di Aceh, saya diminta untuk pulang dulu karena pas foto saya yang berlatar putih. :0

Nanti setelah itu polisi akan mengurus dokumen SKCK tersebut. Lama waktunya sekitar 3 hari paling lama.

  • NPWP

Sebagai warga yang baik, jangan lupa membayar pajak. Mengurus NPWP adalah langkah awalnya. Saya senang sekali karena birokrasi kantor pajak di daerah saya (Aceh) sangaat baik :). Semuanya berhasil terurus dalam waktu setengah hari saja. You need nothing at all, except your KTP (as usual). Lalu hanya tinggal mengisi form disana and Ta da! kartu NPWP nya selesai dibuat. *terharu*

  • Surat dari Depnaker (Kartu Kuning) bagi yang belum bekerja

Siapkan foto, KTP, fotkop ijazah untuk yang fresh graduate. Datangi Depnaker dan mereka akan mengurusi semuanya no later than 3 days.

  • Transkrip Nilai

I don’t need to comment it further. Pasti sudah disiapkan di tempat kuliah kita beriringan dengan ijazah kita 🙂

  • Surat Keterangan

Begi yang belum bekerja dimanapun, kita hanya tinggal mengetik surat keterangan belum bekerja (ada formatnya di internet) lalu diberikan material dan ditanda tangani diri sendiri. Bagi yang sudah bekerja harus memberikan surat resign (pengunduran diri/pemberhentian kerja) dari perusahaan atau tempat bekerjanya yang terakhir.

  • Rekening bank

Di beberapa tempat kerja, ada yang mengharuskan kita membuka rekening tabungan yang compatible terhadap system finance di tempat kerja tersebut. Sebagai contoh, di perusahaan saya segala bentuk transfer gaji, pembayaran THR atau cuti hanya dilakukan di rekening mandiri. Sehingga saya harus membuka rekening mandiri jika belum ada.

  • Pas foto

Siapkan foto segala ukuran (4×6, 2×3 dan 3×4) cukup banyak dengan variasi beragam (hitam putih, warna latar belakang putih merah atau biru). You’ll never knew when you’ll use it suddenly.

  • Curriculum Vitae

——————————

Itu adalah sebagian besar dokumen yang akan dibutuhkan bagi seseorang yang akan bekerja. Bisa jadi ada perusahaan yang tidak membutuhkan beberapa dokumen tersebut atau ada yang membutuhkan lebih banyak lagi dokumen dari yang telah disebutkan. Untuk calon karyawan yang sudah menikah, dokumen nya akan mungkin lebih banyak lagi seperti: butuh tambahan KUA, Akte anak istri, dll

Semoga berguna yaa untuk yang akan bekerja nanti. Dipersiapkan saja karena nantinya akan sangat sulit jika harus mengurusnya secara terburu buru. Mungkin ketika telah mendapatkan pekerjaan, perusahaan atau tempat kerja akan memberikan waktu untuk mengurus semua kelengkapan dokumennya, namun disarankan agar mengurus sebagian dulu. Better safe than sorry. Semoga semua yang mencari pekerjaan segera mendapatkan rezeki pekerjaan yang terbaik Amin 🙂

Alhamdulillah Akhirnya sidang juga

19 Juni 2014. No Doubt, I should note that moment as one of my awesome one in 2014.

Alhamdulillaa Segala puji bagi Allah karena nikmat-Nya lah akhirnya saya berhasil menjadi Sarjana Teknik Perminyakan ITB Juli. Jujur beberapa waktu yang lalu, saya sudah dalam tahap hopeless dan hampir give up bahwa tugas akhir (TA) tidak akan selesai di bulan Juni karena banyaknya kendala yang harus dihadapi. Dari mulai topik TA yang cenderung tricky dan konseptual (korelasi aliran dua fasa dalam annulus itu super banyak dan mesti hati hati penggunaannya), data yang sangat terbatas, waktu mepet, dll. Pokoknya, selama 2 bulan terakhir saya udah berserah diri kalau kalau akhirnya periode wisuda saya di bulan Oktober.

Namun Allah berkehendak lain. Meskipun konon katanya sidang saya merupakan sidang terlama di angkatan (1 jam 25 menit, padahal yang lain hanya sekitar 50 menit kurang), toh akhirnya saya berhasil S.T juga. ^^

Kelihatan tegang lumayan hehe

Kelihatan tegang lumayan hehe

Saat presentasi jujur banyaak banget masukan (kalau ga mau dibilang “pembantaian” :p) dari dosen penguji. Tapi saya udah nyiapin mental sih, apalagi di awal presentasi dosen pengujinya, Mas Taufan sudah bilang gini:  “Tenang saja, saya masih punya banyak waktu kok untuk mengeksplor kamu lebih jauh, No hard feeling ya..“. Yaudah deh waktu itu saya pun pasrah. Hampir semua pertanyaan bisa dijawab (Semoga bener jawabannya haha). Tapi kalau adapun pertanyaan yang cukup sulit, dosen pembimbing saya Mbak Nenny sangat murah hatinya dengan memberikan clue bahkan menambahkan jawaban saya. Rasa-rasanya setelah presentasi saya ingin memeluk mba Nenny deh {()}

Surely, setelah 1 jam lebih presentasi yang mendebarkan itu, gantian teman saya Bella Astari yang mempresentasikan tugas akhirnya. Dan setelah 50 menit kemudian, presentasi selesai dilanjutkan oleh speech dosen pembimbing dan kemudian saya dan teman saya dinyatakan LULUS sebagai SARJANA TEKNIK. Alhamdulillah!

Gelar ini saya persembahkan kepada Orang tua: Zulaidah dan Sufardi Umar karena tanpa doa dan jerih payah mereka di setiap langkah, saya tidak akan berhasil menyelesaikan studi saya dengan baik. Even Thank you seems so under rated to say for them. I love you mom and dad 🙂

Terima kasih kepada Nbak Nenny Saptadji selaku dosen pembimbing yang tidak lelah memberi ilmu, saran masukan dan kritik demi tugas akhir yg lebih baik. Padahal Mbak Nenny super sibuk tapi tetep bisa nyempetin waktu untuk konsultasi, revisi TA, dan dry run presentasi. Terima kasih juga kepada Mbak Nurita (Asisten Mbak Nenny yang super pinter) yang banyak sekali membantu saya dalam pengerjaan TA: dari nyariin data, bantuin jelasin konsep sampai ngedit draft final bareng sampai jam 7 malam. Makasih banyak yaa Mbak untuk cerita ceritanya diluar TA. Terakhir, terima kasih kepada Mas Taufan selaku dosen penguji yang banyak memberi saran dan membuka mata saya terhadap studi yg saya pelajari.

Ini dosen pembimbing saya, Ahli Teknik Geothermal se Indonesia mbak Nenny Miryani Saptadji :)

Ini dosen pembimbing saya, Ahli Teknik Geothermal se Indonesia mbak Nenny Miryani Saptadji 🙂

Bersama dosen pembimbing (mba Nenny), teman sidang saya ngegemesin (Bella Astari), dan Dosen penguji saya yang baik (mas Taufan Marhaendradjana)

Bersama dosen pembimbing (mba Nenny), teman sidang saya ngegemesin (Bella Astari), dan Dosen penguji saya yang baik (mas Taufan Marhaendradjana)


Dan terakhir terima kasih kepada petro army dan teman teman yg telah hadir. You guys are really my spirit, my mood booster, and my candy crush. Makasih ucapan, bunga, balon dan coklat coklat nya yaa. :)). LUPH ❤

Teman teman Petro Army TM 2010 XD

Teman teman Petro Army TM 2010 XD

Picture1

FINALLY
Zahratul Kamila. S.T

DEADLINER is ME

Oke sekarang sudah akhir Mei, Sure doesn’t feel it :0

Beberapa minggui ini rasa-rasanya saya menjelma menjadi procastinator ekstrim. Bulan juni nanti seharusnya saya sudah akan sidang kelulusan bersiap siap menjadi mantan mahasiswa Teknik Perminyakan. Tapi ngeliat tugas akhir kok hopeless begini :(. Lebih aneh lagi, udah tau hopeless, bukannya berusaha konsultasi, nyari tahu, belajar dll, saya malah menggunakan sebagian waktu saya untuk leyeh leyeh di kamar, nonton one piece/ attack on Titan (yup, i love this manga/anime recently) atau browsing ga jelas.

Sepertinya benar sih, kostan (lebih tepatnya kasur) adalah magnet bagi mahasiswa super pemalas kayak saya. Kalau kata sahabat saya dalam tweet nya “I love bed more than sharks love blood –> SO TRUE hahaha.

Kalau udah peak banget stress nya, saya cuma bisa cerita ke teman angkatan betapa terlantarnya TA, meminta pendukung (teman lain yang nasibnya sama), tapi yaudah gitu aja, ga ada usaha dan trigger lebih lanjut, Dasar.

Image

Iseng Browsing-browsing trus nemu quote yang “nyeleneh” ini :). Look clearly on the picture above, that might be what some people really believe right now. Kata salah satu temen angkatan saya, Theoza: menjadi deadliner itu adalah suatu kesempatan untuk memaksimalkan tingkat keefektifan waktu. Coba bayangkan, kerjaan yang dicicil 2 bulan dengan dalam 2 hari dapat menghasilkan output yang sama. Lalu kadang, ide fresh tiba tiba bisa langsung muncul ketika bekerja under time pressure. Di beberapa case yang saya alami sih makes sense juga.

Tapi my rensponse saat itu? Well, I have to admit kadang bener juga sih. Saya merasa bahwa hal tersebut sering terjadi ketika saya ngerjain tugas, nyusun laporan atau bahkan jadi panitia acara. Pada H-7, otak saya belum bisa “on” dan bekerja. Namun biasanya di H-2 atau bahkan sampai J-sekian ada saja ide atau inspirasi yang datang sehingga kerjaan dapat terselesaikan. Hal ini yang kadang dapat membuat saya kecanduan untuk menunda-nunda. Meskipun demikian, apakah pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik? Belum tentu. Meskipun ide brillian itu datang namun tetap saja eksekusi pengerjaan terpaksa diselesaikan secara terburu buru sehingga banyak kesalahan yang membuat hasil tidak maksimal.

Contohnya nih ketika saya mengerjakan laporan Kerja Praktek. Draft nya sudah saya kerjakan dari setahun lalu ketika saya magang di Chevron. Namun tetap saja saya harus mengedit agar penulisannya benar, tidak salah eja, keterangan gambar dan tabelnya sesuai dan sebagainya. Waktu itu saya mengerjakan semuanya hanya dalam 10 jam non stop untuk total 52 halaman laporan KP. Hasilnya karena sudah dikejar waktu dan terburu buru saat nge print. Saya tidak sadar bahwa tidak semua gambar saya lampirkan sumbernya. Padahal dosen wali saya sangat memperhatikan detail laporan dan selalu memperingatkan untuk menyertakan sumber seluruh gambar di laporan.

Duh, sensasi panik selama presentasi KP itu sama sekali ga menyenangkan lho. Ditambah lagi saya berani beraninya menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan pertama yang mempresentasikan laporan KP. Entah miracle apa yang saya dapat, hari itu dosen wali hanya memperhatikan sedikit laporan saya dan cukup fokus dengan materi presentasi saya. Di tengah materi, saya distop untuk presentasi lalu beliau berujar Sudah mantap dek, sempurna. Materinya bagus. Kamu boleh mengakhiri presentasinya. Saya berikan nilai A”. Hening sesaat, saya hanya speechless lalu tersadar sehingga kemudian mengangguk sopan sambil mengucapkan terima kasih. Padahal dalam hati saya sudah sangat kepengen buat joget joget (Only in my wildest scenario).

Pengalaman “coincidentally lucky” begini juga yang membuat saya bertahan deadliner *sigh*. Padahal ditengah kepanikan sebelumnya saya bertekad untuk tidak deadliner sambil berdoa agar nilai KP lancar. Namun ketika sudah mendapatkan hasil yang bagus, mulai lagi melupakan tekad-tekad tadi. Haduh.

Lalu kenapa saya menulis tulisan ini? Simpel, saya ingin menjadi pengingat untuk mengurangi kebiasaan deadliner saya. Apalagi saya masih punya beban super besar di tahun ini untuk segera diselesaikan –> TUGAS AKHIR (di Caps Lock plus Bold supaya makin keliatan). Deadline terakhir sidang adalah 20 Juni. Pastinya TA sudah harus selesai maksimal seminggu sebelumnya agar dapat direvisi. Waktu sebulan lebih tentu bukan waktu yang lama. Oleh karena itu, ketika saya mulai bermalas malasan, kehilangan semangat untuk men-TA. Saya akan membuka postingan ini dan semoga nanti muncul secercah semangat AMIN.

Apalagi kalau menyangkut masalah TA, sama sekali ga keren dong kalau tugas akhir yang notobene merupakan karya terakhir keilmuan kita di institusi pendidikan malah dikerjakan asal asalan, dan hasilnya bukan dari usaha terbaik kita. Biar makin mantap, saya sertakan juga ayat atau hadist tentang mudharatnya menunda pekerjaan.

”Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (berikutnya). Jika itu semua sudah selesai, maka berharaplah kepada Tuhanmu.” (As-Syarh: 7-8). 

Dari ‘Abdur Rahman bin Auf, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Menunda-nunda itu adalah pancaran setan yang disisipkan ke dalam hati orang-orang mukmin.’” (HR. Dailami no. 2420) 

Dalam sebuah hadits disebutkan :“ Dua nikmat Allah yang kebanyakan manusia sering lalai di dalamnya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang)…HR. Al Bukhari

Duh Naudzubillah, semoga saya bisa terlepas yaa dari kebiasaan deadliner akut ini. Dan semoga TA saya diberi kelancaran. Ganbatte and wait for me Sidang.. 🙂 :*