Direct Assessment Indonesia Mengajar angkatan XIII

Buka buka lagi blog ini, rasa rasanya saya pengen bersin. Habisnya berdebu bukan main saking ga pernah disentuh lagi. Menilik ke post terakhir, saya cuma sedikit cerita tentang seleksi berkas administrasi Indonesia Mengajar. Masih banyak yang pengen saya tumpahkan tentang proses selanjutnya. Apa daya lah waktu dan tenaga yang terbatas (baca: malas) membuat saya nunda nunda mulu dan baru sempat nulis sekarang. Better late than never sih ya semoga. (Telat nya udah berbulan bulan tapi haha).

Jujur aja. Saya hampir ga pernah ikut assessment yang sifatnya integrated sebelum LPDP dan IM. Jadi selama ini saya paling cuma pernah ikut test psikotest, wawancara secara sendiri sendiri. Belum pernah ikut FGD juga, apalagi ikut test yang ditumpuk tumpuk dalam satu hari. Jadi ketika saya dapat info via email mengenai direct asseassment IM dan agenda nya apa aja, ya saya speechless! Dalam hati saya mikir, “Gila ini test nya super padat dan banyak, fix ini bakal lelah banget”.

Dan it’s indeed tiring. Tapii saya jauh lebih ga nyangka dong bahwa walaupun padat, DA nya IM ini supeeer menyenangkan. Bahkan ketika saya selesai pun, saya merasa biar ga lulus pun nanti, saya udah mendapatkan banyak hal yang bermanfaat dengan hanya ikut test ini. =)

Perjalanan DA dimulai saat saya datang pertama kali ke gedung tes pukul 7 pagi. Saya langsung mendaftarkan nama saya ke panitia dan menunjukkan berkas berkas yang telah diminta seperti KTP, ijazah dll. Saya juga sempat berkenalan dengan peserta- peserta DA yang dilihat dari luar saja keliatan bahwa mereka semua pasti hebat dan membanggakan. Apalagi jika sudah mengobrol. Semuanya cerdas dan berprestasi.

15 menit proses verifikasi dan mengobrol berlalu, saya izin pamit untuk mengisi kekosongan perut yang udah mulai keroncongan dan mengeluarkan bunyi bunyi aneh. Untungnya disekitar sana banyak yang menjual nasi kuning dan goreng gorengan yang lebih dari cukup memberi energi untuk sepanjang hari.

Saya lalu masuk lagi pukul 8 kurang 15 ke gedung karena acara dimulai pukul 8. Mungkin karena faktor kekenyangan, saya malah mengantuk parah saat menunggu test pertama (-.-). Untung adrenalin terpacu saat panitia mulai memanggil untuk test pertama, jadi lumayan mengurangi kantuk. (Malu maluin emang, padahal yang lain juga ga ada yang ngantuk)

Ditengah tengah test pertama yaitu psikotest, rupanya ada sambutan dari Bu Evi selaku executive director IM mengenai proses DA. Kesan pertama saya adalah, Bu Evi ini vibe nya positif sekali. Caranya yang memotivasi kami serta briefing nya mengenai program IM ini cukup membekas dan memberi dorongan semangat.

Tanpa banyak agenda, acara sambutan langsung diganti dengan seriusnya proses test psikotest atau lebih dikenal dengan TPA kali ya. Bagi yang sudah pernah test kerja atau test CPNS pasti sudah familiar dengan test ini. Di mbah google insya Allah banyaaak banget referensi test yang bakal membantu berlatih dan mempersiapkan diri.

Saya ingat beberapa tips dari guru saya dulu terkait test psikotest:

– Kerjakan soal yang paling dikuasai walaupun urutannya belakangan. Dan saya sebagai anak teknik langsung menjawab soal yang berhubungan dengan angka =p

– Jangan stuck dengan soal yang belum bisa dijawab. Cepat move on berarti cepat mendapatkan jawaban baru. Kalau semua soal yang bisa dijawab sudah selesai barulah fokus ke soal yang lumayan butuh waktu lama

РSisa 5 menit terakhir dipakai buat menebak  berhubung ga ada poin minus (setahu saya). Jadi saya memanfaatkan waktu untuk tebak tebak berhadiah. Pokoknya jangan biarkan kertas kosong aja.

Tips menebak? Kalau ada 2 pilihan jawaban yang dekat, ya pilih salah satu di antara itu. Tapi untuk soal soal yang benar benar blank, saya memilih untuk mengisi satu huruf yang sama saja, misalnya C semua atau D semua. Peluang benar nya lebih tinggi daripada isian yang sifatnya random dan acak.

 

Setelah otak saya cukup terkuras karena test awal ini, tim panitia memberikan jeda sedikit bagi kami sekitar beberapa menit untuk sekedar menghela nafas dan beradu senyum dengan peserta lain. Seolah tak ingin membuang waktu, tim seleksi langsung mengumumkan kelompok kecil dimana kelompok tersebut akan menjadi partner tetap selama test berlangsung. Kebetulan saya sekelompok bersama Winda, Desi, Yusva dan Nita. Jumlah laki laki di DA jadwal saya memang dikiit banget dan tim kecil saya ga kebagian laki laki, jadilah kita menamai grup kita dengan nama celutukan tim buibu gosip. Memang kita berlima ini langsung cepat ceriwis dan bisa bercerita satu sama lain.

 

Tibalah di test kedua yaitu focus group discussion. Saya mungkin adalah manusia ter ga siap diantara mbak mbak nya yang lain. Tapi saya hanya bisa berdoa semoga saya setidaknya bisa nyusun pendapat dan menunjukkan kemampuan yang cukup baik. Kasus FGD nya secara umum adalah permasalahan mengenai masalah pendidikan. Untuk khususnya, permasalahan yang kelompok kami hadapi adalah tentang kondisi sekolah A yang tingkat retensi siswa yang selalu menurun seiring naiknya tingkatan, kurang sadarnya orang tua mengenai pendidikan, jarak sekolah menengah yang jauh membuat anak anak putus sekolah. Pokoknya permasalahan tsb sudah kompleks. Peserta diminta membuat prioritas dari solusi solusi yang sudah tersedia. Mana yang harus dikerjakan dulu dan mana yang menyusul.

Kemudian prioritas masing2 peserta akan didiskusikan untuk mencapai solusi bersama sebagai satu tim yang satu. (Musyawarah untuk mencapai mufakat)

Saya sempet pusing di awal awal untuk menentukan prioritas karena sudah sedemikian mengakarnya sampai sampai bingung mau gerak yang mana dulu. Saya mencoba membreakdown permasalahan2 yang ada  dan berusaha menemukan akar masalahnya. Dari situ saya mencoba mencari solusi paling feasible untuk root cause tersebut. Sebenarnya tidak ada yang benar dan salah dalam FGD ini. Yang terpenting adalah alasan dibalik keputusan dan cara penyampaiannya yang baik dan sopan.

Saya inget banget ada dua kubu besar di tim saya, yaitu saya dan Nita, dan Yusva Winda dan Desi. 2 kubu ini berbeda prioritas (jauh). Setelah diskusi panjang dan waktu yang semakin sempit, saya akhirnya memutuskan untuk menerima lobby kubu sebelah untuk menprioritaskan pendapat mereka karena alasannya juga cukup meyakinkan menurut saya. Jadi perlu diinget, pendapat kita tidak diterima sebagai solusi utama bukan masalah kok. Asal kita mau berlapang dada menerima dan tetap supportive, tetap akan dinilai sebagai suatu poin. Justru hindari terlalu mendominasi. Karena diskusi ini sifatnya bukan kompetisi melainkan kolaborasi.

Test ketiga dan terkocak adalah test micro teaching. Saya yakin banget semua peserta DA Akan mengenang test ini sebagai test ter ga terlupakan. Gimana ga? Semua persiapan bahan ajar, media pemberlajaran dkk dihancurkan oleh scenario jail tim seleksi nya. Bahkan kita juga dipaksa ber acting untuk menguji ketahanan mental temen temen kita yang akan tampil. Ada yang kondisi nya sedang gempa, ada yang murid nya poop sembarangan dan nangis (saya menunjuk diri sendiri untuk ambil peran anak ini :p), ada yang satu kelas kayak mayat (diaaaam semua tanpa suara dan semangat), ada yang orang tua tiba tiba masuk kelas membawa parang dan menyuruh anak nya tidak sekolah, dan masih banyak lagi scenario mencengangkan lainnya.

Saking chaos nya, saya bahkan curiga ini bukan test tapi sebenernya uji mental dan plonco ala ala IM =p.

Setelah super lega dan bebas menertawakan diri sendiri pas micro teaching. Kami menunggu untuk dipanggil test wawancara. Wawancara nya terdiri dari 2 sesi (60 menit dan 30 menit). Pertanyaan nya hampir mirip dengan kumpulah pertanyaan pada seleksi administrasi. Jadi memang kalau kita ga jujur isi berkas pasti akan langsung ketauan dengan para assessor nya. Saya juga ga bisa memberikan advise tentang wawancara ini karena sifat nya sangat subjektif. Tapi setidaknya tunjukkan antusiasme saat menjawab dan pertahankan kontak mata. Just be yourself saja.

Terakhir, saya harus melewati test psikologi gambar. Seperti dulu saat saya test perguruan tinggi, saya diminta menggambar 3 gambar dengan 3 tema: manusia lengkap, pohon, dan rumah beserta orang. Kamu bisa cari di internet kalau penasaran dengan arti dari gambarmu, tapi kalau saya ga terlalu banyak mencari. Saya gambar apa yang paling bisa aja.

Capek penat, itu pasti. Tapi terbayar dengan pengalaman berharga dan teman teman baru yang sangat positif. Bersyukur sekali saya mendapatkan keseruan keseruan di Direct Assessment Indonesia Mengajar.

Advertisements