DEADLINER is ME

Oke sekarang sudah akhir Mei, Sure doesn’t feel it :0

Beberapa minggui ini rasa-rasanya saya menjelma menjadi procastinator ekstrim. Bulan juni nanti seharusnya saya sudah akan sidang kelulusan bersiap siap menjadi mantan mahasiswa Teknik Perminyakan. Tapi ngeliat tugas akhir kok hopeless begini :(. Lebih aneh lagi, udah tau hopeless, bukannya berusaha konsultasi, nyari tahu, belajar dll, saya malah menggunakan sebagian waktu saya untuk leyeh leyeh di kamar, nonton one piece/ attack on Titan (yup, i love this manga/anime recently) atau browsing ga jelas.

Sepertinya benar sih, kostan (lebih tepatnya kasur) adalah magnet bagi mahasiswa super pemalas kayak saya. Kalau kata sahabat saya dalam tweet nya “I love bed more than sharks love blood –> SO TRUE hahaha.

Kalau udah peak banget stress nya, saya cuma bisa cerita ke teman angkatan betapa terlantarnya TA, meminta pendukung (teman lain yang nasibnya sama), tapi yaudah gitu aja, ga ada usaha dan trigger lebih lanjut, Dasar.

Image

Iseng Browsing-browsing trus nemu quote yang “nyeleneh” ini :). Look clearly on the picture above, that might be what some people really believe right now. Kata salah satu temen angkatan saya, Theoza: menjadi deadliner itu adalah suatu kesempatan untuk memaksimalkan tingkat keefektifan waktu. Coba bayangkan, kerjaan yang dicicil 2 bulan dengan dalam 2 hari dapat menghasilkan output yang sama. Lalu kadang, ide fresh tiba tiba bisa langsung muncul ketika bekerja under time pressure. Di beberapa case yang saya alami sih makes sense juga.

Tapi my rensponse saat itu? Well, I have to admit kadang bener juga sih. Saya merasa bahwa hal tersebut sering terjadi ketika saya ngerjain tugas, nyusun laporan atau bahkan jadi panitia acara. Pada H-7, otak saya belum bisa “on” dan bekerja. Namun biasanya di H-2 atau bahkan sampai J-sekian ada saja ide atau inspirasi yang datang sehingga kerjaan dapat terselesaikan. Hal ini yang kadang dapat membuat saya kecanduan untuk menunda-nunda. Meskipun demikian, apakah pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik? Belum tentu. Meskipun ide brillian itu datang namun tetap saja eksekusi pengerjaan terpaksa diselesaikan secara terburu buru sehingga banyak kesalahan yang membuat hasil tidak maksimal.

Contohnya nih ketika saya mengerjakan laporan Kerja Praktek. Draft nya sudah saya kerjakan dari setahun lalu ketika saya magang di Chevron. Namun tetap saja saya harus mengedit agar penulisannya benar, tidak salah eja, keterangan gambar dan tabelnya sesuai dan sebagainya. Waktu itu saya mengerjakan semuanya hanya dalam 10 jam non stop untuk total 52 halaman laporan KP. Hasilnya karena sudah dikejar waktu dan terburu buru saat nge print. Saya tidak sadar bahwa tidak semua gambar saya lampirkan sumbernya. Padahal dosen wali saya sangat memperhatikan detail laporan dan selalu memperingatkan untuk menyertakan sumber seluruh gambar di laporan.

Duh, sensasi panik selama presentasi KP itu sama sekali ga menyenangkan lho. Ditambah lagi saya berani beraninya menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan pertama yang mempresentasikan laporan KP. Entah miracle apa yang saya dapat, hari itu dosen wali hanya memperhatikan sedikit laporan saya dan cukup fokus dengan materi presentasi saya. Di tengah materi, saya distop untuk presentasi lalu beliau berujar Sudah mantap dek, sempurna. Materinya bagus. Kamu boleh mengakhiri presentasinya. Saya berikan nilai A”. Hening sesaat, saya hanya speechless lalu tersadar sehingga kemudian mengangguk sopan sambil mengucapkan terima kasih. Padahal dalam hati saya sudah sangat kepengen buat joget joget (Only in my wildest scenario).

Pengalaman “coincidentally lucky” begini juga yang membuat saya bertahan deadliner *sigh*. Padahal ditengah kepanikan sebelumnya saya bertekad untuk tidak deadliner sambil berdoa agar nilai KP lancar. Namun ketika sudah mendapatkan hasil yang bagus, mulai lagi melupakan tekad-tekad tadi. Haduh.

Lalu kenapa saya menulis tulisan ini? Simpel, saya ingin menjadi pengingat untuk mengurangi kebiasaan deadliner saya. Apalagi saya masih punya beban super besar di tahun ini untuk segera diselesaikan –> TUGAS AKHIR (di Caps Lock plus Bold supaya makin keliatan). Deadline terakhir sidang adalah 20 Juni. Pastinya TA sudah harus selesai maksimal seminggu sebelumnya agar dapat direvisi. Waktu sebulan lebih tentu bukan waktu yang lama. Oleh karena itu, ketika saya mulai bermalas malasan, kehilangan semangat untuk men-TA. Saya akan membuka postingan ini dan semoga nanti muncul secercah semangat AMIN.

Apalagi kalau menyangkut masalah TA, sama sekali ga keren dong kalau tugas akhir yang notobene merupakan karya terakhir keilmuan kita di institusi pendidikan malah dikerjakan asal asalan, dan hasilnya bukan dari usaha terbaik kita. Biar makin mantap, saya sertakan juga ayat atau hadist tentang mudharatnya menunda pekerjaan.

”Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (berikutnya). Jika itu semua sudah selesai, maka berharaplah kepada Tuhanmu.” (As-Syarh: 7-8). 

Dari ‘Abdur Rahman bin Auf, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Menunda-nunda itu adalah pancaran setan yang disisipkan ke dalam hati orang-orang mukmin.’” (HR. Dailami no. 2420) 

Dalam sebuah hadits disebutkan :“ Dua nikmat Allah yang kebanyakan manusia sering lalai di dalamnya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang)…HR. Al Bukhari

Duh Naudzubillah, semoga saya bisa terlepas yaa dari kebiasaan deadliner akut ini. Dan semoga TA saya diberi kelancaran. Ganbatte and wait for me Sidang.. 🙂 :*