Karena mimpi anak itu indah

kawan coba lihatlah di langit yang tinggi

terbang di angkasa, besar sekali

terbuat dari besi

besar dan gagahnya

siapakah yang tahu apa namanya

aku.. tahu..itu kapal terbang

aku.. ingin menjadi pilotnya

alangkah.. senangnya hatiku bila ku berada di atas sana

betapa senangnya hatiku bila kan ku dapat keliling dunia

Kesan pertama begitu saya dengerin lagu ini: sebuah lagu anak-anak yang sederhana, tapi sarat dan kaya akan mimpi. Sebenarnya masih ada potongan lirik lainnya, tetapi saya rada lupa. Lagu ini udah lama banget saya nyanyiin bareng teman-teman cilik saya semasa SD dahulu. (mungkin hampir 10 tahun lebih). Dulu saya juga baru tahu lagu ini waktu dikenalin pertama kali pas latihan. Biasanya kan lagu anak-anak yang booming kala itu lagu lagu semacam bintang kecil, pelangi, balonku yang super klasik atau kalo sedikit modern bisa lagunya trio kwek-kwek, sherina, tasha, cikita dll. Luckily, saya dapet kesempatan nyanyiin lagu ini buat ikut paduan suara tingkat SD, dan berhasil nganter tim paduan cilik SD saya ke tingkat provinsi dan meraih juara 2 (congkak dikit lah.. haha).

Dengerin lagu ini lagi bikin saya mendadak jadi kangen dengan wali kelas SD saya selama dua tahun berturut turut. Nama beliau Bu Ros. Guru saya yang luar biasa ini multitalented mulai dari mengajar pelajaran sekolah, paduan suara, seni, olimpiade, sampai pendidikan moral. Beliau ga pernah keliatan lelah ngelatih anak-anak SD yang bandel ini untuk tetap fokus paduan suara meski kadang beliau sering kesal sama tingkah anak-anak muridnya. Beliau juga kadang harus rela pulang sore karena latihan tambahan. Namun kelihatan nya beliau menikmati segala aktivitas ini dan terus ingin mendidik kita dengan sepenuh hati. Rindu banget sama karakter Bu Ros yang lucu tetapi kadang galak dan suka memotivasi. Ga heran kalo di tangan Bu Ros, paduan suara SD saya selalu menang kompetisi se Banda Aceh. It’s because her strong will and hardwork.

Terakhir kali kami sekelas berbicara dengan beliau adalah ketika Bu Ros bilang jangan mau kalah dengan murid di kota besar, murid daerah juga memiliki potensi yang sama dengan mereka asalkan mau belajar dan terus belajar. Kala itu satu kelas akan menghadapi ujian semester pertama di akhir desember 2004, yang akhirnya dibatalkan karena tsunami sehari sebelumnya. (We surely miss you a lot, Bu :”)

pic source : link

Weleh, saya kok mendadak jadi random dan mellow :D. It’s just little story behind the memorable song.

Berbicara mengenai lagu anak-anak yang mendidik dan sarat ilmu moral, udah tahu lah ya kalau kualitas lagu anak-anak sudah menurun drastis di era sekarang (lupa tapi tepatnya kapan mulai menurun). Bahkan bisa dibilang, hampir ga ada lagi yang memunculkan lagu anak-anak tersebut. Bisa jadi karena regenarasi kurang, baik pencipta lagu, penyanyi cilik, dan lain lain. Terakhir saya pernah dengar lagu yang dinyanyikan oleh bintang sinetron dan penyanyi cilik Umay. In my opinion, lagunya cukup menyenangkan dan punya pesan yang bagus lho buat anak anak seumurannya. Cuma mirisnya, kayaknya lagu itu ga terlalu terdengar gaungnya di anak-anak sekarang.

Liburan tahun lalu ketika saya menghabiskannya di rumah, saya merhatiin ada lagu cilik baru dan dinyanyikan penyanyi cilik yang cukup populer. Tapiii sayangnya, lirik lagunya ga sesuai dengan kesan yang seharusnya edukatif, informatif, menyenangkan dan ceria. Malah isi liriknya belakangan yang saya simak adalah tentang percintaan si bocah tersebut, pacaran, pedekate, dll. Meh.. specchless abis saya. Lagunya sih easy listening, suara penyanyinya oke, dan kata adik saya, orangnya ganteng (what thee.. -_-”) Mirip banget lah sama Justin Bieber tempo dulu pas awal awal booming. Sama-sama masih bocah di bawah umur, tetapi kayaknya udah asam garam banget di bidang percintaan.

Saya sih cuma ngenes aja.  Dulu pernah ada isu bahwa banyak anak anak yang kekurangan lagu berkualitas, sehingga mereka terpaksa menyanyikan lagu lagu dewasa seperti lagunya peterpan, vierra, rossa dan penyanyi lain yang esensi liriknya jauuh di atas umur (dulu pernah rame diangkat jadi bahan protes suatu acara pemilihan bintang cilik yang sebagian besar lagu yang dinyanyikan adalah lagu dewasa).

Sekarang kayaknya “lebih mendingan” karena udah mulai muncul penyanyi cilik yang suaranya bagus, multitalenta dan mengusung lagu anak-anak (sebut merk boleh doong :D, a.ka Coboy junior dan kawan kawannya). Tapi sayang banget di beberapa lagu, esensi liriknya juga belum pantas dinyanyikan apalagi dikonsumsi anak-anak. Trus apa bedanya dong?

Ibarat setali tiga uang. Menurut saya sih ga akan terlalu banyak perbedaan antara lagu dewasa dengan lagu berkemas cilik tetapi lirik tetap dewasa. Sama-sama menjadi sebuah lagu yang belum saatnnya diperdengarkan untuk anak-anak. Bahkan menurut saya, kategori kedua lebih berbahaya dari kategori pertama. Seiring dengan berjamurnya lagu anak-anak seperti itu, anak-anak akan merasa bahwa esensi dari lirik tersebut akhirnya merupakan hal yang lumrah bagi mereka.

Saya salut banget sama pencipta lagu anak-anak legendaris yang menghasilkan banyak karya lagu anak-anak yang bagus. Kita mungkin mulai ngelupain nama nama seperti A.T Mahmud, Bapak kasur, Ibu Kasur, Pak Dal, Ibu Sud dan Papa T. Bob. Hampir semua lagu anak anak dibuat dari talenta talenta mereka. Kalau pingin lebih tau tentang mereka, bisa dibaca disini

Masih ingat banget di masa kejayaannya lagu anak-anak (which era saya masih masuk :p). We did sing it cheerfully, mau lagu anak anak klasik atau modern sama aja. Orang dewasa aja juga nyanyiin kok.

Ohya satu hal lagi, saya sama sekali ga terkontaminasi tuh dengan lirik yang “aneh aneh” (karena emang hampir ga ada). Makanya jaman SD, saya ga pernah kepikiran tuh tentang gebetan, “tembak-tembak an”, dan pacaran. It’s like: saya benar-benar jadi anak-anak yang bermain seutuhnya.

I hope, semoga suatu saat nanti dalam dalam waktu yang ga lama, bakal akan muncul lagi lagu anak-anak yang berkualitas baik dari nadanya, liriknya, maknanya  dan pembelajarannya. Ga perlu sih lirik yang berat-berat. Cukup dengan lirik yang simpel, nada yang ceria, tapi sarat keceriaan.